English
DOI:
https://doi.org/10.25078/ride.v4i1.6477Kata Kunci:
community-based tourism, spiritual tourism, Tri Hita Karana, wellness tourismAbstrak
Arah Pariwisata di Bali Pascapandemi Covid19 mengarah pada sektor wellness dan spiritual salah satu contonya adalah di Desa sangeh. Utamanya pada sektor wellness dan spiritual. Desa Sangeh di Kabupaten Badung Provinsi Bali yang sebelumnya terkenal akan ekowisata hutan Sangeh (Monkey Forest) saat ini menghadirkan Daya Tarik Wisata baru yang bernama Penglukatan Pancoran Solas di kawasan Taman Tirta Mumbul. Ini merupakn Wisata spiritual unggulan. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tata kelola pariwisata wellness dan spiritual di Taman Tirta Mumbul melalui keberadaan sebelas mata air sucinya, dengan mengaplikasikan konsep Community Based Tourism (CBT) dan filosofi Tri Hita Karana. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur artikel ini mendalami aspek teologis, terapis serta sosiologis dari tradisi melukat.
Hasil tinjauan dalam penelitian membuktikan Penglukatan Pancoran Solas tidak hanya sekadar menjadi sarana penyucian diri dan terapi psikologis melainkan juga dapat berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi warga lokal yang saat ini dikelola secara langsung oleh Desa Adat Sangeh. Dalam Penerapan Konsep Tri Hita Karana terbukti dapat menjamin keselarasan antara pemeliharaan kesucian spiritual (Parahyangan), pelibatan masyarakat adat desa sangeh(Pawongan) dan konservasi ekologi air (Palemahan). Pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) sangat efektif dalam merawat orisinalitas budaya sekaligus dapat mendatangkan keuntungan finansial bagi masyarakat setempat.
