Urgensi Pengembangan Kultur Formal Sekolah Keagamaan sebagai Instrumen Pembentukan Aspek Pemahaman Kultur Liyan: Studi Kasus di Pondok Pesantren Bali Bina Insani, Tabanan-Bali
DOI:
https://doi.org/10.25078/gw.v12i2.5530Kata Kunci:
Kultur Formal, Sekolah Keagamaan, Pendidikan multikulturalAbstrak
Penelitian bertujuan menganalisis urgensi pengembangan kultur formal sekolah keagamaan Islam sebagai instrumen pembentukan aspek pemahaman kultur liyan. Penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teknik angket terbuka, observasi tidak berstruktur, wawancara tidak berstruktur, dan studi dokumen sebagai metode pengumpuan data. Data dianalisis menggunaan teknik analisis kualitatif model Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan beberapa yang menunjukkan urgensi pengembangan kultur formal sekolah keagamaan sebagai instrumen peengembangan aspek pemahaman kultur liyan. Pertama, konten pendidikan multilkultural sebagian besar telah tereksternalisasi melalui kultur formal sekolah keagamaan, kecuali aspek pemahaman kultur liyan. Kedua, ketidakoptimal eksternalisasi konten pendidikan multuikultural berkaitan dengan ketidakutuhan pemahaman terhadap konsep pendidikan multikultural. Ketiga, pengelola memiliki respon positif terhadap penerapan konten pendidikan multikultural sebagai basis kultur sekolah keagamaan Islam sebagai wujud pemahaman bahwa konsep pendidikan multikultural berkongruensi dengan ajarana Agama Islam. Keempat, pendidikan multikultural dipahami sebagai salah satu strategi yang relevan dan memberikan keuntungan bagi pengembangan sumber daya manusia umat Islam di Bali, di Indonesia, dan bahkan di dunia. Kesimpulannya, pengembangan kultur formal pendidikan keagamaan sebagai instrumen pengembangan aspek pemahaman kultur liyan merupakan hal yang sangat urgen untuk mendorong Pondok PBBI sebagai model pengembangan pendidikan multikultural dalam pendidikan keagamaan Islam di Bali, Indonesia, dan dunia pada umumnya.











