SINERGISITAS SISTEM AGURON-GURON DAN PENDIDIKAN KEKINIAN BAGI SULINGGIH DAN CALON SULINGGIH MENUJU MILENIUM BARU
DOI:
https://doi.org/10.25078/sphatika.v17i1.6100Kata Kunci:
aguron-guron, Hindu education, sulinggihAbstrak
Pendidikan agama Hindu memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai spiritual, moral, dan budaya umat Hindu di tengah dinamika globalisasi dan modernisasi. Salah satu sistem pendidikan tradisional yang berperan penting dalam pembentukan pemuka agama Hindu adalah sistem aguron-guron, yaitu model pendidikan berbasis parampara yang menekankan hubungan spiritual dan etis antara guru (nabe) dan murid (nanak). Namun, perkembangan zaman menuntut adanya adaptasi dan sinergi antara sistem aguron-guron dengan sistem pendidikan formal dan nonformal agar tetap relevan dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pendidikan aguron-guron tradisional, sistem pendidikan formal dan nonformal bagi sulinggih dan calon sulinggih, serta bentuk sinergisitas ketiganya dalam menghadapi tantangan era milenium baru. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap sumber-sumber keagamaan Hindu, literatur pendidikan, serta kajian-kajian terkait kesulinggihan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem aguron-guron berperan penting dalam pembentukan karakter spiritual dan moral calon sulinggih, sementara pendidikan formal memberikan landasan akademik dan kemampuan berpikir kritis, dan pendidikan nonformal memperkuat keterampilan praktis dalam pelaksanaan ritual keagamaan. Sinergi antara ketiga sistem pendidikan tersebut menghasilkan model pendidikan ideal yang mampu mencetak sulinggih yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan keilmuan, serta kemampuan kontekstual dalam menjawab permasalahan umat Hindu di era kekinian. Oleh karena itu, integrasi sistem aguron-guron dengan pendidikan formal dan nonformal menjadi kebutuhan strategis dalam pengembangan pendidikan agama Hindu berkelanjutan.
Referensi
Ambarnuari, M. & W. (n.d.). Siwa Sasana Manuscript as a Guideline for The Behaviour of Hindu Pandita (Priests) in Indonesia.
Ambarnuari, M. A. W. G. (2024). Sistem Aguron-Guron di Griya Agung Bangkasa, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 7, 68–84. https://doi.org/https://doi.org/10.37329/kamaya.v7i1.3067
Ambarnuari, M., & Widyawati, A. A. A. A. (2021). Yoga Sebagai Sarana Menuju Tuhan Yang Advaita. 4(1), 102–111. https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=xXj7x4kAAAAJ&citation_for_view=xXj7x4kAAAAJ:IjCSPb-OGe4C
Moleong, L. J. (2010). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Penyusun, T. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia (3rd ed.). Balai Pustaka.
Piliang, Y. A. (2010). Post Realitas (Realitas Kebudayaan dalam Era Post-metafisika (M Nasrudin (ed.); Alfathri A). Jalasutra.
Pilliang, Y. A. (2010). Post - Realitas, Realitas Kebudayaan dalam era Post Metafisika ( alfatri Adlin (ed.); 3rd ed.). Jalasutra.
Putu Putra, N. (2011). Tuhan Upanisad Menyelamatkan Masa depan Manusia. Media Hindu.
Suhardana, K. . (2008). Dasar-Dasar Kesulinggihan.
Tim, P. (2007). Diksa Pintu Menapaki Jalan Rohani. Paramita Surabaya.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Sphatika: Jurnal Teologi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.









