TRADISI MATITISUARA PADA NGUSABA KEDASA DI PURA ULUN DANU BATUR DESA BATUR KECAMATAN KINTAMANI KABUPATÉN BANGLI (KAJIAN BAHASA BALI)
(Kajian Bahasa Bali)
DOI:
https://doi.org/10.25078/sphatika.v17i1.6062Kata Kunci:
Tradisi Matitisuara, Linguistik, Desa Batur, Ngusaba Kedasa, Nilai Budaya.Abstrak
Penelitian ini menganalisis Tradisi Matitisuara yang dilaksanakan selama upacara Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli. Fokus utama penelitian adalah mengkaji bentuk lingual bahasa Bali dalam tradisi tersebut, peran tradisi terhadap masyarakat, serta implikasinya terhadap pola pikir warga setempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan informan kunci seperti Dané Jero Penyarikan dan tokoh adat, serta studi dokumen terhadap Raja Purana Pura Ulun Danu Batur. Analisis data dilakukan secara induktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan teori strukturalisme, sosiolinguistik, dan fungsionalisme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perspektif mikrolinguistik, tradisi Matitisuara melestarikan kekhasan dialek Batur, seperti penggunaan fonem vokal /a/ pada akhir kata yang tetap diucapkan tegas. Secara makrolinguistik, tradisi ini berfungsi sebagai media komunikasi spiritual yang mengandung petuah (piteket) penting bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Terdapat tiga bait utama petuah yang menekankan pentingnya kerja keras (daak), ketekunan dalam usaha meskipun dimulai dari hal kecil, serta penggunaan dana secara bijaksana untuk investasi sosial dan keagamaan. Implikasi dari tradisi ini sangat mendalam, di mana Matitisuara menjadi landasan etis dan motivasi bagi berbagai profesi, mulai dari guru, petani, hingga undagi (tukang), dalam menjalankan tugas mereka dengan penuh dedikasi dan rasa bakti. Kesimpulannya, Tradisi Matitisuara bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan instrumen vital dalam internalisasi nilai-nilai luhur dan penguatan identitas budaya yang menjaga keharmonisan masyarakat Desa Batur
Referensi
Ahmad, & Muslimah. (2021). Memahami teknik pengolahan dan analisis data kualitatif. Proceedings of Pincis Palangka Raya International and National Conference on Islamic Studies, 1(1).
Aji, G. (2023). Sukseman Piteket Matitisuara Ngusaba Kedasa Pura Ulun Danu Batur Manut Era Sekadi Mangkin.
Ardika, I. N. (2018). Maprani sebagai rangkaian pada Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur. Jurnal Jayapangus Press, 1(1).
Budarsana, I. W. (2023). Sukseman Piteket Matitisuara Ngusaba Kedasa ring Pura Ulun Danu Batur.
Budiastra, P., dkk. (2010). Katusan Rontal Raja Purana Ulun Danu Batur (Jilid 1–2). Bangli: Pangemong Pura Ulun Danu Batur.
Budiastra, P., dkk. (1979). Raja Purana Pura Ulun Danu Batur. Denpasar: Museum Bali.
Dané Jero Penyarikan Duuran Pura Ulun Danu Batur. (2023). Sukseman Piteket Matitisuara lan Kawéntenan Nilai Pendidikan ring Bhakti Matitisuara.
). Arti dan makna pujawali. Surabaya: Paramita.
Gunada, I. B., dkk. (2012). Pendidikan anti korupsi melalui tradisi Matitisuara. Denpasar: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali.
Iwan, I. M. J. (2019). Pengantar linguistik umum. Denpasar: Vidia.
Sibarani, R. (2015). Pendekatan antropolinguistik terhadap kajian tradisi lisan. Retorika: Jurnal Ilmu Bahasa, 1(1).
Karda, Guru. 2023. Sukseman Piteket Matitisuara lan Èédan Bhakti Ngusaba Kedasa Pura Ulun Danu Batur.
Suntika, I. K. (2013). Matiti suara, penuh makna antikorupsi. Antara News Bali.
Tim Peneliti. (2012). Nilai pendidikan antikorupsi dalam tradisi Matiti Suara di Desa Pakraman Batur. Denpasar: Universitas Udayana.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Sphatika: Jurnal Teologi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.









