Air dan Kehidupan

Relevansi Ekologi Hindu dalam Menghadapi Krisis Air Bersih di Tengah Modernisasi Bali

Penulis

  • Acyutananda Wayan Gaduh Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • Anak Agung Ayu Alit Widyawati Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

DOI:

https://doi.org/10.25078/sphatika.v16i2.5761

Kata Kunci:

Ekologi Hindu, Krisis Air, Modernisasi Bali

Abstrak

Krisis air merupakan isu ekologis yang kini turut dialami Bali, meskipun dalam ajaran Hindu air dipandang sebagai unsur suci yang melambangkan kemurnian, kehidupan, dan kesejahteraan. Air menjadi unsur utama dalam berbagai ritual sehingga Hindu dikenal sebagai agama tirtha. Namun, perkembangan pariwisata dan modernisasi yang masif menyebabkan perubahan orientasi masyarakat terhadap alam, termasuk berkurangnya penghormatan terhadap sumber-sumber air. Penelitian ini bertujuan menggali kembali relevansi ekologi Hindu dalam merespons krisis air di Bali. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka filosofis dan ekoteologis, menggabungkan pemahaman ekologi Hindu dengan perspektif ekologi mendalam (deep ecology). Hasil kajian menunjukkan bahwa air menempati posisi sentral dalam kehidupan religius dan kultural masyarakat Hindu Bali sebagai simbol penyucian, perlindungan, dan anugerah dari Tuhan. Penelitian ini menegaskan bahwa nilai sakralitas air dapat menjadi fondasi etika ekologis dalam pengelolaan sumber daya air modern. Kontribusi penelitian terletak pada tawaran kerangka kesadaran ekologis berbasis spiritualitas yang dapat menjadi acuan dalam perumusan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Bali. Pemuliaan air dari hulu ke hilir menjadi prinsip penting dalam menjaga keseimbangan alam. Namun, pertumbuhan populasi dan tingginya kebutuhan pariwisata memicu eksploitasi sumber air yang berdampak pada penurunan kualitas dan ketersediaan air. Ekologi Hindu menawarkan landasan pelestarian melalui penerapan konsep mandala, menjaga keberadaan alas angker dan pohon sakral, serta memperkuat sistem subak. Upaya ini memerlukan kesadaran individu, dukungan lembaga adat-keagamaan, serta komitmen politik pemerintah untuk memulihkan harmoni alam Bali.

Referensi

Avinash, R., & Puradkar, P. (2025). Revisiting the Spiritual and Philosophical significance of water in Vedic Tradition. 64–68.

Gaduh, A. W., & Harsananda, H. (2021). Teo-Ekologi Hindu Dalam Teks Lontar Sri Purana Tatwa. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 4(3), 426–441. https://doi.org/10.37329/kamaya.v4i3.1408

Nathania, K. D. (2025). 2,2 Miliar Penduduk Dunia Sulit Mendapat Akses Air Bersih. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/22-miliar-penduduk-dunia-sulit-mendapat-akses-air-bersih/#:~:text=2%2C2 Miliar Penduduk Dunia Sulit Mendapat Akses,* Seminar/Workshop. * 17 Agustus 2025%2C 10.37

Paramita, A. A. G. K. (2021). Filosofi Tirta Sebagai Air Suci Dalam Implementasi Upacara Dewa Yadnya. Widya Katambung: Jurnal Filsafat Agama Hindu, 12(2), 32–40.

Sari, N. M. D. (2024). Air Dalam Agama Hindu: Studi Tentang Konsep Agama Tirtha Di Bali. Sruti: Jurnal Agama Hindu, 5(1), 124–132.

Surada, i M. (2007). Kamus Sanskerta-Indonesia. Paramita.

Titib, I. M. (2003). Teologi & Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Paramita.

Titib, I. M. (2004). Purāṇa Surber Ajaran Agama hindu Komprehensip. Paramita.

Titib, I. M. (2008). Itihāsa Rāmāyana & Mahābhārata (vīracarita) Kajian Kritis Sumber Ajaran Agama Hindu. Paramita.

Valencia, J. (2025). Kisah Warga Krisis Air Bersih di Karangasem Bali, Terpaksa Beli Air Galon. Kompas TV. https://www.kompas.tv/regional/600256/kisah-warga-krisis-air-bersih-di-karangasem-bali-terpaksa-beli-air-galon

Zoetmulder, P. J. (1994). Kamus Jawa Kuna Indonesia. PT. Gramedia Pusaka Utama.

Unduhan

Diterbitkan

2025-09-30

Cara Mengutip

Gaduh, A. W., & Widyawati, A. A. A. A. (2025). Air dan Kehidupan: Relevansi Ekologi Hindu dalam Menghadapi Krisis Air Bersih di Tengah Modernisasi Bali. Sphatika: Jurnal Teologi, 16(2), 186–197. https://doi.org/10.25078/sphatika.v16i2.5761

Terbitan

Bagian

##section.default.title##
Abstrak viewed = 79 times