HIRANYAGARBHA SEBAGAI ARKETIPE PENCIPTAAN: KAJIAN HERMENEUTIK KOSMOLOGI MĀNAVA DHARMAŚĀSTRA DALAM PERSPEKTIF G. PUDJA DAN TJOKORDA RAI SUDHARTA
DOI:
https://doi.org/10.25078/sphatika.v16i2.5414Kata Kunci:
Hiranyagarbha, Mānava Dharmaśāstra, Hindu Cosmology, HermeneuticsAbstrak
ABSTRAK
Kosmologi tidak hanya berada dalam tataran pengetahuan saintifik, namun juga dapat diafiliasikan pada pengetahuan yang bersifat religi, seperti pengetahuan agama, Hindu contohnya . Kosmologi dalam pandangan Hindu tidak hanya membahas tentang alam semesta dalam arti materi (sekala), namun juga tentang seluruh wujud baik materi maupun non materi (niskala). Hindu menegaskan bahwa ada eksistensi nyata tak berwujud yang disebut Brahman, secara metafisik merupakan realitas mono namun kaya akan personifikasi. Dengan kata lain secara kosmologis, alam semesta ini merupakan salah satu dari beragam wujud-Nya atau dalam dimensi ajaran Mānava Dharmaśāstra disebut dengan Hiranyagarbha. Untuk itu penelitian ini berupaya menganalisis peran dan makna Hiranyagarbha sebagai arketipe penciptaan universal dalam kosmologi Hindu, dengan fokus pada narasi yang terdapat dalam Bab 1 Mānava Dharmaśāstra. Penelitian ini menelusuri bagaimana konsep tersebut diformulasikan dan diinterpretasi, khususnya dalam konteks teologi Hindu di Indonesia melalui lensa hermeneutik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis filosofis-hermeneutik, penelitian ini mengkaji teks-teks primer dan sekunder untuk menafsirkan makna yang terkandung di balik sloka-sloka penciptaan. Temuan utama menunjukkan bahwa Hiranyagarbha bukanlah sekadar entitas mitologis, melainkan sebuah arketipe, sebuah pola dasar universal dari mana realitas termanifestasi. Interpretasi yang dilakukan oleh para penerjemah dan akademisi di Indonesia, seperti G. Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta, menjadi jembatan penting yang menghubungkan narasi kosmologis klasik dengan teologi monoteistik modern, dengan secara eksplisit menyamakan Hiranyagarbha dengan konsep Brahman atau Hyang Widhi Wasa. Kajian ini menyimpulkan bahwa tindakan hermeneutik ini tidak hanya menerjemahkan teks, tetapi juga mengontekstualisasikan dan memberikan relevansi teologis yang kuat bagi umat Hindu kontemporer.
Kata Kunci: Hiranyagarbha, Mānava Dharmaśāstra, Kosmologi Hindu, Hermeneutika.
Referensi
Adnyana, I. B. P. (2021). Kosmologi Hindu dalam Teks Ganapati Tattwa. Satya Widya: Jurnal Studi Agama, 4(1), 59-80.
Adnyana, I. B. P. (2022). Monoteisme-Panteistik: Oposisi Biner Etalase Kepercayaan Umat Hindu di Bali (Suatu Tinjauan Fenomenologi Berbasis Pustaka Suci). Widya Katambung, 13(1), 1-15.
Hetheringtton, S. N. (1993). Cosmology: Historical, Literary, Philosophical, Religious, and Scientific Perspective. Garland Reference Library of Humanities.
Jha, G. (1929). Manu-smrti: the laws of Manu with the bhāsya of Mēdhātithi (Vol. 1). University of Calcutta.
Olivelle, P. (2004). Manu's Code of Law: A Critical Edition and Translation of the M-anava-Dharmaś-astra. Oxford University Press.
Pranowo, Y. (2023). Refleksi filosofis atas kosmologi dan alam semesta. Humanika Kaji. Ilm. Mata Kuliah Umum, 23(2).
Pudja, G. & Sudharta, T. R. S. (1973). Mānava Dharmaśāstra (Manu Dharmaśāstra) atau Veda Smṛti-Compendium Hukum Hindu. Surabaya: Pāramita.
Sidik, M. A. (2022). Kosmologi Dalam Pandangan Imam Khomeini. Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat, 18(1), 45-71.
Surpi, N. K., & Ardana, I. K. (2022). Metode Pembelajaran Filsafat Hindu: Studi Teks Filsafat India Klasik dan Proyeksinya pada Pembelajaran Filsafat Hindu Dewasa ini. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 6(4), 289-304.










