SAKRALITAS DAN KOMODIFIKASI BANTEN: NEGOSIASI MAKNA ANTARA KOMUNITAS HINDU DAN PERAJIN NON-HINDU DI BALI
Kata Kunci:
Banten, Kesakralan, Komodifikasi, Hubungan Antarumat Beragama, Keberlanjutan BudayaAbstrak
Di tengah meningkatnya pengaruh modernisasi dan pariwisata di Bali, banten sarana persembahan ritual yang menjadi inti praktik keagamaan Hindu Bali mulai bergeser dari fungsi sakral tradisionalnya dan memasuki ranah pertukaran ekonomi sehari-hari. Transformasi ini menciptakan ketegangan yang halus antara makna spiritual dan nilai material, serta mendorong perhatian baru terhadap cara kesakralan dipahami dan dibentuk ulang dalam kehidupan budaya kontemporer. Studi ini mengeksplorasi bagaimana makna banten dinegosiasikan dan ditafsirkan ulang dalam interaksi sosial yang mempertemukan komunitas Hindu dan perajin non-Hindu dalam kolaborasi erat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan analisis wacana budaya dan literatur antropologi, penelitian ini menunjukkan bahwa komodifikasi tidak serta-merta mengurangi signifikansi spiritual. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi ruang hidup di mana nilai-nilai spiritual ditegaskan kembali melalui bentuk praktik yang fleksibel dan bersifat relasional. Partisipasi perajin non-Hindu memperlihatkan peran mereka tidak hanya sebagai penyedia perlengkapan ritual, tetapi juga sebagai mitra budaya yang turut menjaga keberlangsungan ritme kehidupan ritual umat Hindu. Temuan ini menegaskan bahwa kesakralan bukanlah atribut yang statis, melainkan proses dinamis yang terbentuk melalui interaksi berkelanjutan antara niat spiritual, aktivitas ekonomi, dan identitas sosial pihak-pihak yang terlibat. Studi ini menawarkan perspektif yang berpusat pada manusia mengenai komodifikasi ritual, kerja sama lintas agama, dan ketahanan budaya, serta memberikan wawasan baru tentang bagaimana makna sakral terus berkembang di tengah lanskap Bali kontemporer yang terus berubah.
Referensi
Appadurai, A. (1986). The social life of things: Commodities in cultural perspective. Cambridge University Press.
Appadurai, A. (1996). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization. University of Minnesota Press.
Bennett, W. J. (2014). Ritual economies and the materialization of social life. In E. M. Brumfiel & T. Earle (Eds.), Ritual economy (pp. 1–20). University Press of Colorado.
Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste. Harvard University Press.
Budiasa, I. M. (2018). Representasi wacana tanpa kekerasan di cybermedia dalam praksis budaya Hindu-Bali: A critical discourse analysis. Vidya Samhita: Jurnal Penelitian Agama, 4(2), 1–12. https://ejournal.ihdn.ac.id/index.php/vs/article/view/2322
Charmaz, K. (2006). Constructing grounded theory: A practical guide through qualitative analysis. SAGE Publications.
Comaroff, J., & Comaroff, J. L. (2009). Ethnicity, Inc. University of Chicago Press.
Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). SAGE Publications.
Durkheim, É. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Trans.). Free Press. (Original work published 1912)
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.
Hannerz, U. (1992). Cultural complexity: Studies in the social organization of meaning. Columbia University Press.
Titib, I. M. (2003). Teologi dan simbol-simbol dalam agama Hindu. Paramita.
Vickers, A. (2012). Bali: A paradise created. Tuttle Publishing.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Kajian Komunikasi Budaya (Journal of Cultural Communication Studies)

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
JKKB: Jurnal Kajian Komunikasi Budaya (Journal of Cultural Communication Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Permissions beyond the scope of this license may be available at JKKB: Jurnal Kajian Komunikasi Budaya (Journal of Cultural Communication Studies




