REPRESENTASI KAWIN KERIS Ddalam MEDIA BARU: ANALISIS WACANA KRITIS

Penulis

  • I Made Dwi Gunarta BPN Bali
  • Ni Luh Manik Puja Dewi Setda. Pemda. Tabanan

Kata Kunci:

Representasi, Praktik Kultural, kawin Keris, Analisis Wacana Kritis, Media baru

Abstrak

Praktik budaya kawin keris mencerminkan ketidaksetaraan gender dalam masyarakat Bali. Fenomena ini tidak terbatas pada praktik kehidupan nyata, tetapi juga menjadi subjek wacana yang diperdebatkan di media baru. Representasi dan identitas yang muncul di ruang digital menyoroti isu yang patut mendapat perhatian akademis kritis. Studi ini berfokus pada bagaimana praktik budaya kawin keris direpresentasikan di media baru dan wacana dominan apa yang membentuk konstruksi realitasnya. Penelitian ini menerapkan teori representasi dan identitas Stuart Hall sebagai kerangka teoritisnya. Pendekatan kualitatif menggunakan analisis wacana kritis digunakan untuk mengkaji konten media digital, didukung oleh observasi, wawancara, dan tinjauan pustaka. Temuan penelitian mengungkapkan tiga posisi utama dalam representasi kawin keris. Pertama, pembacaan dominan-hegemonik melegitimasi praktik tersebut sebagai solusi atas permasalahan perkawinan yang belum terselesaikan. Kedua, posisi yang dinegosiasikan mencerminkan audiens yang memediasi antara mengakui ketidakadilan gender dan menawarkan solusi alternatif. Ketiga, posisi oposisional menolak praktik tersebut secara langsung, membingkainya sebagai bentuk kekerasan simbolik dan ketidakadilan berbasis gender. Representasi yang beragam ini menunjukkan makna budaya kawin keris yang diperdebatkan dalam ruang media baru yang dinamis.

Referensi

DetikBali. (2023, November 18). Viral pernikahan mempelai pria diganti keris, PHDI Bali buka suara. Detik.com. https://www.detik.com/bali/budaya/d-7044302/viral-pernikahan-mempelai-pria-diganti-keris-phdi-bali-buka-suara

Fairclough, N. (1995). Critical discourse analysis: The critical study of language. London: Longman.

Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks. New York: International Publishers.

Grid.id. (2023, Februari 14). Viral gadis cantik di Bali nikah tanpa mempelai pria, cuma ada keris dan foto di upacara pernikahan. Grid.id. https://www.grid.id/read/043952949/viral-gadis-cantik-di-bali-nikah-tanpa-mempelai-pria-cuma-ada-keris-dan-foto-di-upacara-pernikahan-keberadaan-si-cowok-terkuak?page=all

Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage Publications.

Budiasa, I. M. (2016). Paradigma dan Teori dalam Etnografi Baru dan Etnografi Kritis. In B. Yuliani, Pramestidasih (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Paradigma dan Teori-teori Komunikasi dalam Ilmu Komunikasi (Vol. 1, pp. 9–24). Denpasar: IHDN Press. Retrieved from http://ihdnpress.ihdn.ac.id

Budiasa, I. M. (2018). Metode Etnografi Virtual dalam Analisis Cyber-Religion di Era Digitalisasi. In I. M. B. Ni Made Yuliani, I Gusti Ayu Ratna Pramesti Dasih (Ed.), Prosiding Seminar Nasional: Ilmu Komunikasi di Era Milenial Komunikasi Digitalisasi dan Transformasi Riset Komunikasi (pp. 37–48). Denpasar: IHDN Press.

Subekti. (1991). Pokok-pokok hukum perdata. Jakarta: Intermasa.

TikTok. (2025). Agus menikah, proses pernikahan tanpa kehadiran dirinya, keris dibungkus kain putih menjadi simbol pengganti Agus [Video]. TikTok. https://www.tiktok.com/@suara.hati.dewata/video/7493066952882064645

TVOneNews. (2022, November 7). Viral pernikahan wanita dengan keris di Gianyar Bali, ini kisahnya. TVOneNews. https://www.tvonenews.com/daerah/bali/23617-viral-pernikahan-wanita-dengan-keris-di-gianyar-bali-ini-kisahnya

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1.

van Dijk, T. A. (2001). Critical discourse analysis. In D. Tannen, D. Schiffrin, & H. Hamilton (Eds.), Handbook of discourse analysis (pp. 352–371). Oxford: Blackwell.

Diterbitkan

31-10-2024

Cara Mengutip

I Made Dwi Gunarta, & Ni Luh Manik Puja Dewi. (2024). REPRESENTASI KAWIN KERIS Ddalam MEDIA BARU: ANALISIS WACANA KRITIS. Jurnal Kajian Komunikasi Budaya (Journal of Cultural Communication Studies), 1(02), 191–200. Diambil dari https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/JKKB/article/view/4234