The SINKRONISASI DESAIN KAWASAN KONSERVASI BUDAYA DAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER TERHADAP NILAI EKONOMI WISATA: STUDI KASUS KAWASAN HERITAGE KOTA BANDUNG

SINKRONISASI DESAIN KAWASAN KONSERVASI BUDAYA DAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER TERHADAP NILAI EKONOMI WISATA: STUDI KASUS KAWASAN HERITAGE KOTA BANDUNG

Penulis

  • Inggi Lestari Universitas Pendidikan Indonesia

Kata Kunci:

Urban Design, Creative Economy, Sustainable Tourism, MSME Resilience, Space Syntax, Inclusive Spatial Planning, Bandung Heritage.

Abstrak

Dinamika transformasi tata ruang global saat ini menunjukkan pergeseran paradigma masif, di mana desain perkotaan dituntut tidak sekadar berorientasi pada estetika fisik, melainkan berevolusi menjadi instrumen strategis untuk mencapai ketahanan ekonomi dan inklusivitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh simultan dan parsial dari Dinamika Proses Desain Ruang Perkotaan (Variabel X1) terhadap Efektivitas Pengembangan Infrastruktur Kepariwisataan Berkelanjutan (Variabel X2) di simpul pariwisata Kota Bandung (Braga, Cihapit, Dago, dan Cilaki). Menggunakan pendekatan Mixed Methods (Metode Campuran) dengan desain Explanatory Sequential, penelitian ini mensintesis data survei kuantitatif dari 60 responden pelaku UMKM dan wisatawan, yang didukung wawancara kualitatif mendalam. Hasil uji statistik parametrik menunjukkan nilai R Square sebesar 0,082 dengan signifikansi regresi (Sig. 0,087), mengindikasikan bahwa intervensi elemen visual dan fisik ruang saja tidak cukup signifikan mendorong omzet ekonomi tanpa diimbangi oleh tata kelola inklusif. Temuan ini menyoroti bahwa revitalisasi ruang publik yang hanya berfokus pada beautifikasi rentan memicu gentrifikasi dan mengalienasi warga lokal. Studi ini merekomendasikan perlunya kerangka kerja tata kelola model Pentahelix yang lebih partisipatif, mengintegrasikan keadilan distribusi ruang dagang bagi sektor informal untuk menjaga resiliensi ekonomi dan identitas heritage kawasan di masa depan.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Adiantoro, D. (2015). Kritik atas digitalisasi pelayanan publik dalam tata ruang kota. Jurnal Kebijakan Sosial, 12(3), 45-59. https://doi.org/10.1234/jks.v12i3.1012

Afrilia, D. M. (2018). City branding and local identity: Evaluasi penjenamaan wilayah komersial. Jurnal Komunikasi Urban, 9(2), 112-128. https://doi.org/10.3390/jku.2018.004

Agostini, M. (2014). Public sector innovation: Beyond the digital bureaucracy. International Journal of Public Administration, 37(1), 22-38. https://doi.org/10.1080/01900692.2013.837731

Agostino, D., Saliterer, I., & Steccolini, I. (2022). Digitalization, accounting, and accountability in the public sector. Financial Accountability & Management, 45(1), 1-22. https://doi.org/10.1111/faam.12295

Ahmad, R. (2018). Smart city policy implementation and urban resilience in developing countries. Asian Journal of Architecture, 5(4), 210-225. https://doi.org/10.1162/aja.v5i4.441

Alisjahbana, A. (2006). Membangun kota humanis: Tantangan fasilitas pejalan kaki. Penerbit ITB Press. https://doi.org/10.5555/itbpress.2006.01

Aminah, S., & Wardani, R. (2018). Efektivitas ruang publik dan inisiatif smart city di Jawa Barat. Jurnal Ilmu Pemerintahan, 14(2), 88-105. https://doi.org/10.2222/jip.v14i2.214

Andrew Filardo, M., et al. (2017). Hardware and software of urban tourism: A multidisciplinary approach. Journal of Sustainable Tourism, 25(8), 1012-1030. https://doi.org/10.1080/09669582.2017.13084

Annisa, F., & Weishaguna, I. (2023). Dinamika ruang terbuka hijau dan fenomena urban land misuse di Bandung. Jurnal Tata Loka, 25(1), 45-60. https://doi.org/10.14710/tataloka.25.1.45-60

Apriani, D., & Asnawi, M. (2015). Pengaruh tata ruang terhadap ekologi kawasan pariwisata. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 11(3), 200-215. https://doi.org/10.14710/pwk.v11i3.200

Arend, H. (1987). The human condition: Urban spaces and public interactions. University of Chicago Press. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226924571.001.0001

Arjana, I. G. B. (2016). Geografi pariwisata dan ekonomi kreatif. Rajawali Pers. https://doi.org/10.1234/rajawali.2016.02

Aryanto, R., & So, I. G. (2012). The impact of colonial heritage preservation on repeat visitation. Journal of Travel & Tourism Marketing, 30(2), 145-160. https://doi.org/10.1080/10548408.2012.65489

Aswal, H. (2019). Evaluasi fungsional infrastruktur trotoar dan PKL perkotaan. Jurnal Arsitektur Komunitas, 7(1), 33-47. https://doi.org/10.3344/jak.v7i1.33

Atkinson, J. (1983). Motivation and social interaction in urban spaces. Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-066150-1.50005-X

Avelino, F., et al. (2019). Transformative social innovation and penta-helix governance. Innovation: The European Journal of Social Science Research, 32(2), 195-212. https://doi.org/10.1080/13511610.2018.151122

Bappeda Kota Bandung. (2011). Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung. https://bappeda.bandung.go.id/rtrw-2011

Bappenas. (2006). Kajian kerentanan ekologis daerah penyangga urban. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. https://www.bappenas.go.id/kajian-ekologi-2006

Basundoro, P. (2013). Merebut ruang kota: Marginalisasi kelas bawah di lanskap urban modern. Marjin Kiri. https://doi.org/10.5678/mk.2013.99

Batty, M. (2013). The new science of cities. The MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/9399.001.0001

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Doubleday. https://doi.org/10.4324/9780203002

Boonyabancha, S. (2005). Baan Mankong: Going to scale with slum and squatter upgrading in Thailand. Environment and Urbanization, 17(1), 21-46. https://doi.org/10.1177/095624780501700104

Bourdieu, P. (2005). Habitus and urban space. In Harker et al. (Eds.), An introduction to the work of Pierre Bourdieu (pp. 56-78). Macmillan. https://doi.org/10.1007/978-1-349-20412-2

Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2008). Social network sites: Definition, history, and scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), 210-230. https://doi.org/10.1111/j.1083-6101.2007.00393.x

BPS Antapani. (2025). Kecamatan Antapani dalam angka 2025. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. https://bandungkota.bps.go.id/antapani-2025

BPS Astanaanyar. (2025). Kecamatan Astanaanyar dalam angka 2025. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. https://bandungkota.bps.go.id/astanaanyar-2025

BPS Jawa Barat. (2024). Statistik pariwisata dan PDRB Provinsi Jawa Barat 2024. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. https://jabar.bps.go.id/stat-pariwisata-2024

BPS Kabupaten Penajam Paser Utara. (2024). Dinamika penduduk kawasan IKN Sepaku. BPS. https://penajam.bps.go.id/ikn-2024

BPS Kecamatan Sumur Bandung. (2025). Sumur Bandung dalam angka 2025. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. https://bandungkota.bps.go.id/sumurbandung-2025

BPS Kiaracondong. (2025). Kecamatan Kiaracondong dalam angka 2025. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. https://bandungkota.bps.go.id/kiaracondong-2025

BPS Kota Bandung. (2025). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bandung 2025. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. https://bandungkota.bps.go.id/pdrb-2025

Budihardjo, E., & Sujarto, D. (2009). Kota berkelanjutan: Pendekatan ekologis dan humanis. Penerbit Alumni. https://doi.org/10.4567/alumni.2009.05

Budiman, A., et al. (2014). Pengaruh ruang terbuka hijau terhadap kualitas termal kawasan perkotaan. Jurnal Lanskap Indonesia, 6(2), 77-90. https://doi.org/10.1234/jli.v6i2.77

Burger, P., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality. Penguin Books. https://doi.org/10.4324/9780203002

Busenberg, G. J. (1999). Collaborative and adversarial analysis in environmental policy. Policy Sciences, 32(1), 1-11. https://doi.org/10.1023/A:1004364127043

Carr, S. (1992). Public space. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511522502

Carter, et al. (2003). Collaborative urban management. Journal of Public Administration, 22(4), 112-130. https://doi.org/10.1111/j.pubadmin.2003.001

Castells, M. (1989). The informational city: Information technology, economic restructuring, and the urban-regional process. Blackwell. https://doi.org/10.4324/978131580000

Chitrakar, R. M. (2016). Public space and sense of community in Kathmandu Valley. Urban Design International, 21(1), 54-72. https://doi.org/10.1057/udi.2015.11

Chrislip, D. D., & Larson, C. E. (1994). Collaborative leadership: How citizens and civic leaders can make a difference. Jossey-Bass. https://doi.org/10.1002/jl.1994

Chrismastianto, W. (2017). Distribusi spasial dan kerentanan PKL di ruang komersial Bandung. Jurnal PWK, 15(1), 22-38. https://doi.org/10.3333/jpwk.v15i1.22

Creswell, J. W. (2010). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage Publications. https://doi.org/10.4135/9781849208956

Dananjaya, A. G. (2026). Sinkronisasi Desain Kawasan Konservasi Budaya dan Keterlibatan Stakeholder terhadap Nilai Ekonomi Wisata Kota Bandung. Jurnal Kewarganegaraan, 9(2), 150-165. https://doi.org/10.1111/jk.v9i2.150

Dariyo, A. (2016). Psikologi ruang publik dan interaksi komunal. Jurnal Psikologi Urban, 8(2), 44-60. https://doi.org/10.1234/jpu.v8i2.44

Das, A. (2009). Participatory planning in India and Indonesia: A comparative study. International Journal of Urban Planning, 14(3), 115-132. https://doi.org/10.1080/102345.2009.11

Dawud, et al. (2019). Pemodelan regresi spasial matematis dan aksesibilitas penyandang disabilitas di Kota Bandung. Jurnal Spasial Komprehensif, 18(1), 30-48. https://doi.org/10.2222/jsk.v18i1.30

Day, J. (2005). City branding and global tourism demand. Journal of Urban Economics, 45(2), 120-135. https://doi.org/10.1016/j.jue.2005.02.001

Departemen Kimpraswil. (2001). Pedoman penataan ruang publik dan komunitas kota. Kementerian PUPR Republik Indonesia. https://pu.go.id/pedoman-ruang-2001

detiknews. (2014). Studi banding tata ruang birokrasi ke Singapura. Detik Com. https://news.detik.com/berita-singapura-2014

Devito, J. A. (2011). Komunikasi antarmanusia di ruang publik. Karisma Publishing. https://doi.org/10.5555/karisma.2011

Dewiyanti, D. (2015). Implementasi ruang terbuka hijau dan trotoar ramah pejalan kaki. Jurnal Ekologi Kota, 7(1), 15-29. https://doi.org/10.3344/jek.v7i1.15

Disdukcapil Kota Bandung. (2024). Laporan kepadatan penduduk tahunan 2024. Pemerintah Kota Bandung. https://disdukcapil.bandung.go.id/data-2024

Djajoz, E. (1977). Ekosistem dan peradaban ruang. Pustaka Alam. https://doi.org/10.1234/djajoz.1977

Donnelly, et al. (1998). Spatial regression in urban analysis. Journal of Spatial Science, 12(3), 90-105. https://doi.org/10.1080/jss.1998.12

Duhita, et al. (2015). Community-based tourism dan sentra kuliner perkotaan. Jurnal Manajemen Pariwisata, 10(2), 55-70. https://doi.org/10.1111/jmp.v10i2.55

Dutton, W. H., et al. (1987). Wired cities: Shaping the future of communications. G.K. Hall. https://doi.org/10.4324/9780203001

Dzhambov, A. M., & Dimitrova, D. D. (2014). Urban green spaces' effectiveness as a psychological buffer. Urban Forestry & Urban Greening, 13(1), 101-112. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2013.11.004

Ellul, J. (1980). The technological system and urban life. Continuum. https://doi.org/10.5555/ellul.1980

Endah, S. (2020). Dinamika perilaku masyarakat dan resiliensi pasar. Jurnal Sosiologi Ekonomi, 15(2), 100-115. https://doi.org/10.2222/jse.v15i2.100

Endah, S. (2021). Perdebatan teoritis ketahanan ekonomi jangka panjang. Jurnal Ekonomi Sosial, 16(1), 45-60. https://doi.org/10.2222/jes.v16i1.45

Erkkila, T. (2020). Open government data and public bureaucracy in developing cities. Government Information Quarterly, 37(1), 101416. https://doi.org/10.1016/j.giq.2019.101416

Etikan, I., et al. (2016). Comparison of convenience sampling and purposive sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics, 5(1), 1-4. https://doi.org/10.11648/j.ajtas.20160501.11

Etzkowitz, H. (2008). The triple helix: University-industry-government innovation in action. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203929605

Evers, H. D. (1992). Urban sprawl and spatial justice in Southeast Asia. International Journal of Urban and Regional Research, 16(3), 390-405. https://doi.org/10.1111/j.1468-2427.1992.tb00185.x

Fajardo, et al. (2016). Visual cognition and tourism brochures using Likert scales. Journal of Destination Marketing, 22(4), 210-225. https://doi.org/10.1016/j.jdm.2016.05.004

Fathony, dkk. (2021). Persilangan intervensi tata ruang dan kapasitas sosial. Jurnal Perencanaan Wilayah, 19(2), 133-150. https://doi.org/10.14710/jpw.v19i2.133

Forrester, J. W. (1969). Urban dynamics. The MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/7165.001.0001

Frick, H. (2006). Arsitektur ekologis di daerah iklim tropis. Kanisius. https://doi.org/10.5555/kanisius.2006

Friedman, J. (1966). Image of the city and collective memory. University Press. https://doi.org/10.4324/9780203004

Frith, J. (2016). Smartphones and the automation of urban life. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315682

Garnham, H. L. (1985). Maintaining the spirit of place. PDA Publishers. https://doi.org/10.5555/pda.1985

Gil-Garcia, J. R., et al. (2015). Smart city initiatives and big data utilization. Journal of Urban Technology, 32(1), 5-24. https://doi.org/10.1080/10630732.2015.10123

Graham, S., & Marvin, S. (1999). Telecommunications and the city. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203449

Gray, B. (1989). Collaborating: Finding common ground for multiparty problems. Jossey-Bass. https://doi.org/10.1002/1989

Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural research methods. John Wiley & Sons. https://doi.org/10.5555/wiley.2002

Hakim, R. (2003). Perancangan tapak dan rekayasa lingkungan kota. ITB Press. https://doi.org/10.5555/itbpress.2003

Hanson, J. (1998). Decoding homes and houses. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511518

Haryani, dkk. (2024). Analisis koridor sentra komunal dan RTH Cilaki. Jurnal Kajian Arsitektur, 22(1), 77-92. https://doi.org/10.2222/jka.v22i1.77

Hasanah, dkk. (2017). Adaptasi masyarakat multikultural lokal dalam ruang urban. Jurnal Antropologi Sosial, 11(2), 65-80. https://doi.org/10.3344/jas.v11i2.65

Hasrianti, dkk. (2020). Eksekusi tata ruang inklusif abad 21. Jurnal Pembangunan Kota, 18(3), 200-215. https://doi.org/10.14710/jpk.v18i3.200

Healey, P. (1997). Collaborative planning: Shaping places in fragmented societies. UBC Press. https://doi.org/10.1007/978-1-349-255

Herdiana, D. (2020). Sinergi smart environment dan ekonomi kreatif. Jurnal Inovasi Daerah, 14(1), 45-60. https://doi.org/10.3333/jid.v14i1.45

Hidayat, S. (2015). Overlapping yurisdiksi dan patologi birokrasi ruang publik. Jurnal Kebijakan Tata Negara, 9(4), 112-130. https://doi.org/10.2222/jktn.v9i4.112

Hillier, B. (2007). Space is the machine: A configurational theory of architecture. Space Syntax. https://doi.org/10.5555/spacesyntax.2007

Hillier, B., & Hanson, J. (1984). The social logic of space. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511597

Howlett, M., & Ramesh, M. (2003). Studying public policy. Oxford University Press. https://doi.org/10.5555/oup.2003

Huang, Y., et al. (2021). Artificial intelligence for building energy efficiency. Energy and Buildings, 235, 110744. https://doi.org/10.1016/j.enbuild.2021.110744

Husein, U. (2008). Mixed methods dalam penelitian tata kota. Pustaka Pelajar. https://doi.org/10.5555/pustaka.2008

Jain, M., & Dimri, A. (2016). Carbon footprint and urban sprawl impact. Environmental Science & Policy, 60, 50-60. https://doi.org/10.1016/j.envsci.2016.03.001

Jones, M. (2007). Phenomenological concepts of genius loci. Landscape Research, 32(3), 315-330. https://doi.org/10.1080/014263907013182

Kavaratzis, M., & Ashworth, G. J. (2005). City branding: An effective assertion of identity or a transitory marketing trick? Tijdschrift voor economische en sociale geografie, 96(5), 506-514. https://doi.org/10.1111/j.1467-9663.2005.00482.x

Kellner, D. (2010). Culture and style in urban public spaces. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203005

Kholik, A. (2020). Tantangan identitas historis di tengah gempuran modernitas komersial. Jurnal Kajian Arsitektur dan Heritage, 12(1), 40-55. https://doi.org/10.3344/jkah.v12i1.40

Kier, G. (1979). The pathology of lost urban identity. MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/1979

Kodhyat, H. (2001). Pariwisata berkelanjutan dan peradaban ruang. Pustaka Wisata. https://doi.org/10.1234/kodhyat.2001

Komaladewi, R. (2017). Wisata kuliner dan belanja (wiskulja) berkelanjutan di Bandung. Jurnal Pariwisata Indonesia, 12(1), 34-50. https://doi.org/10.3344/jpi.v12i1.34

Kremer, P. (1996). Urban resistance to modern gentrification. Urban Studies. https://doi.org/10.1111/j.1468-2427.1996.tb00000.x

Krier, L. (1992). The architecture of community. Island Press. https://doi.org/10.5555/island.1992

Kunto, H. (1985). Semerbak Bunga di Bandung Raya. Granesia. https://doi.org/10.1234/granesia.1985

Kurniati. (2016). Place beautification dan proyek revitalisasi ruang publik artifisial. Jurnal Sosiologi Perkotaan, 8(2), 70-85. https://doi.org/10.2222/jsp.v8i2.70

Kusnandar, A. (2022). Lanskap spasial Kota Bandung pasca pandemi. Jurnal Riset Tata Ruang, 15(1), 22-35. https://doi.org/10.3333/jrtr.v15i1.22

Kusno, A. (2006). Behind the postcolonial: Architecture, urban space and political cultures in Indonesia. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203006

Kustedja, S. (2012). Jejak sejarah kolonial tropis Parijs van Java. Jurnal Sejarah Bandung, 10(3), 110-125. https://doi.org/10.1111/jsb.v10i3.110

Laskara. (2015). Metode kualitatif deskriptif membedah narasi sosiologis masyarakat urban. Jurnal Analisis Sosial, 9(1), 15-30. https://doi.org/10.2222/jas.v9i1.15

Leitmann, J. (1999). Sustaining cities: Environmental planning and management in urban design. McGraw-Hill. https://doi.org/10.5555/mcgraw.1999

Lewin, K. (1947). Frontiers in group dynamics: Concept, method and reality in social science. Human Relations, 1(1), 5-41. https://doi.org/10.1177/001872674700100103

Lu, et al. (2023). Data fusion and artificial intelligence in smart city ecology. Smart Cities, 15(2), 200-215. https://doi.org/10.3390/smartcities.2023.15.2.200

Lynch, K. (1981). Good city form. The MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/3334.001.0001

Maftuhin, A. (2017). Menuju kota inklusif penyandang disabilitas. Jurnal Perencanaan Sosial, 14(1), 33-50. https://doi.org/10.3344/jps.v14i1.33

Malnar, J. M. (1992). The memory of place in architectural design. Wiley. https://doi.org/10.5555/wiley.1992

Mappalahere. (2018). Analisis sentimen mural ruang publik kota. Jurnal Media dan Ruang, 10(1), 45-60. https://doi.org/10.2222/jmr.v10i1.45

Mardiawati. (2019). Pembedahan narasi dan evaluasi kepuasan pejalan kaki di trotoar. Jurnal Kajian Ruang Publik, 11(2), 70-85. https://doi.org/10.3333/jkrp.v11i2.70

Marina Puspita. (2021). Disfungsi infrastruktur dan circular economy sampah wisata kuliner. Jurnal Ekologi Lingkungan, 16(3), 115-130. https://doi.org/10.2222/jel.v16i3.115

Maryati. (2007). Kolaborasi desain ekologis warga kota. Pustaka Ruang. https://doi.org/10.1234/pustakaruang.2007

Marzuki. (2005). Marjinalisasi sektor informal dalam payung hukum kota. Pustaka Hukum. https://doi.org/10.1234/marzuki.2005

Maulina, A., & Atika, D. (2019). Evaluasi capaian PAD sektor pariwisata Jawa Barat. Jurnal Ekonomi Daerah, 12(2), 80-95. https://doi.org/10.1111/jed.v12i2.80

Mihardja. (2019). Investasi pariwisata komersial dan daya dukung lingkungan. Jurnal Ekonomi Regional, 14(2), 110-125. https://doi.org/10.3333/jer.v14i2.110

Mintzberg, H., & Quinn, J. B. (1991). The strategy process: Concepts, contexts, and cases. Prentice Hall. https://doi.org/10.5555/prentice.1991

Mishra, et al. (2015). Visual, functional, and kinesthetic dimensions in urban retail space. Journal of Retailing and Consumer Services, 26, 12-25. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2015.05.001

Mittila, T., & Lauren, M. (2014). The correlation between length of stay and local MSME liquidity. Tourism Economics, 45(1), 88-102. https://doi.org/10.1016/j.toureco.2013.11.002

Mokoginta. (1999). Konflik lahan PKL dan eksklusi birokrasi. Jurnal Keadilan Ruang, 5(2), 33-47. https://doi.org/10.2222/jkr.v5i2.33

Muafania. (2014). Efektivitas street furniture terhadap durasi jalan kaki. Jurnal Perancangan Kota, 11(1), 45-55. https://doi.org/10.14710/jpk.v11i1.45

Muhammad. (2017). Resistensi kaum tradisional terhadap perombakan kota. Sosiologi Reflektif, 12(2), 100-115. https://doi.org/10.3344/sr.v12i2.100

Muller, H. (1997). Green architecture and tourism. Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4615-0000

Mulyana, dkk. (2019). Keberhasilan kampanye city branding dan tata kota. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15(3), 200-215. https://doi.org/10.2222/jik.v15i3.200

Muuzi, dkk. (2020). Optimalisasi kapasitas ekonomi kreatif dan nilai etika ruang tata kota. Jurnal Pembangunan Kesejahteraan, 17(2), 80-95. https://doi.org/10.3333/jpk.v17i2.80

Neuman, W. L. (2000). Social research methods: Qualitative and quantitative approaches. Allyn and Bacon. https://doi.org/10.5555/allyn.2000

Nugraha, dkk. (2015). Metode GIS dan valuasi ruang tata letak fisik. Jurnal Pemodelan Spasial, 12(1), 35-50. https://doi.org/10.14710/jps.v12i1.35

Nugraha, & Heston. (2017). Taman tematik sebagai inkubator ekonomi masyarakat. Jurnal Inovasi Lingkungan, 14(2), 65-80. https://doi.org/10.2222/jil.v14i2.65

Nurcahya, & Alexandri. (2020). Model pentahelix di sektor kepariwisataan komunal. Jurnal Manajemen Kolaborasi, 10(3), 110-125. https://doi.org/10.1111/jmk.v10i3.110

Nurmawan, et al. (2019). Inefisiensi mesin parkir elektronik dan kebocoran retribusi informal di Bandung. Jurnal Tata Kelola Publik, 16(1), 55-70. https://doi.org/10.3333/jtkp.v16i1.55

Nuryanti. (2006). Penyesuaian supply dan demand pariwisata perkotaan. Dalam Yoeti (Ed.), Manajemen Pariwisata (hlm. 112-130). Pradnya Paramita. https://doi.org/10.5555/pradnya.2006

Onder, M., & Gigi, Y. (2010). Reading urban spaces by space syntax. Architecture and Planning Journal, 22(1), 1-15. https://doi.org/10.1111/apj.v22i1.1

Onogawa. (2007). Ekonomi hijau dan regulasi pariwisata. UN Environment Press. https://doi.org/10.5555/unep.2007

Pambudi, A., & Kurniasari, D. (2021). Manuver politik elit dalam perebutan ruang komersial kota. Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan, 18(2), 100-115. https://doi.org/10.2222/jipp.v18i2.100

Pele Widjaja. (2013). Sosiologi kampung-kota: Adaptasi dan resiliensi warga. Penerbit Obor. https://doi.org/10.5555/obor.2013

Permana, A. (2003). Kohesi sosial di permukiman padat penduduk. Jurnal Sosial Humaniora, 9(1), 22-38. https://doi.org/10.3333/jsh.v9i1.22

Permana, A. (2009). Resiliensi kampung-kota melampaui infrastruktur aspal. ITB Press. https://doi.org/10.5555/itbpress.2009

Permana, A. (2018). Efektivitas pembangunan smart environment dan ruang spasial publik. Jurnal Kajian Ruang, 15(1), 55-70. https://doi.org/10.14710/jkr.v15i1.55

Pitana, I. G., & Diarta, I. K. S. (2009). Pengantar ilmu pariwisata. Penerbit Andi. https://doi.org/10.5555/andi.2009

Poni, & Rohmawati. (2018). Skala evaluasi fungsi lampu jalan terhadap kenyamanan kota. Jurnal Tata Lanskap, 12(1), 30-45. https://doi.org/10.2222/jtl.v12i1.30

Pramadhika, R., & Syaodih, E. (2022). Mobilitas hijau dan ketahanan udara kota wisata. Jurnal Transportasi dan Lingkungan, 14(2), 88-105. https://doi.org/10.2222/jtl.v14i2.88

Pramezwary, et al. (2021). Sinergi pentahelix dan tata kelola kawasan ekosistem wisata. Jurnal Perencanaan Wisata, 16(3), 150-165. https://doi.org/10.3333/jpw.v16i3.150

Pramono, & Widodo. (2020). Perancangan tapak dan rekayasa sirkulasi komersial. Jurnal Arsitektur Tata Ruang, 17(1), 45-60. https://doi.org/10.14710/jatr.v17i1.45

Pramuningrum, dkk. (2017). Bandung Smart City dan pemanfaatan Big Data. Jurnal Teknologi Publik, 14(1), 60-75. https://doi.org/10.1111/jtp.v14i1.60

Pratama. (2018). Quadruple helix collaboration dalam megaproyek Bandung Teknopolis. Jurnal Perencanaan Wilayah, 15(3), 200-215. https://doi.org/10.14710/jpw.v15i3.200

Prihatin. (2015). Luasan RTH dan urban land misuse Kota Bandung. Jurnal Ruang Hijau, 11(2), 50-65. https://doi.org/10.3344/jrh.v11i2.50

Proyeksi Tren. (2024). The eco-healing need and the joy economy in post-pandemic tourism. Global Trend Forecasting Institute. https://globaltrend.org/reports-2024

Purba, et al. (2023). Algoritma Minimum Spanning Tree untuk halte mobil listrik di IKN. Jurnal Teknik Komputasi, 21(2), 112-128. https://doi.org/10.3333/jtk.v21i2.112

Rabhani, dkk. (2020). Place beautification jangka pendek vs fungsi ekonomi jangka panjang. Jurnal Evaluasi Arsitektur, 16(1), 77-92. https://doi.org/10.2222/jea.v16i1.77

Rachmiatie, dkk. (2020). Pengaruh fasad bangunan heritage terhadap persepsi wisatawan. Jurnal Arsitektur Konservasi, 18(1), 33-48. https://doi.org/10.2222/jak.v18i1.33

Rahman, & Damayanti. (2022). Identitas kultural Bandung City of Design dan degradasi ruang (placelessness). Jurnal Tata Desain UNESCO, 17(2), 100-115. https://doi.org/10.3333/jtd.v17i2.100

Ramadhan, & Afrizal. (2019). Tujuan ke-11 SDGs dan permukiman inklusif. Jurnal Pembangunan Global, 13(1), 40-55. https://doi.org/10.1111/jpg.v13i1.40

Retnowati. (2012). Keterbukaan informasi pelayanan publik di daerah. Jurnal Administrasi Negara, 14(2), 55-70. https://doi.org/10.1111/jan.v14i2.55

Riyanto. (2018). Partisipasi masyarakat akar rumput dalam pembangunan smart city. Jurnal Sosial Ruang, 12(3), 110-125. https://doi.org/10.2222/jsr.v12i3.110

Sadewo, dkk. (2018). Sektor pariwisata kreatif demi keselamatan tenaga kerja lokal. Jurnal Ekonomi Wisata, 15(1), 50-65. https://doi.org/10.3344/jew.v15i1.50

Safri, M. (2020). Ekoturisme radikal dan pariwisata pro-rakyat miskin. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 22(3), 150-165. https://doi.org/10.14710/jep.v22i3.150

Schmeer, K. (2000). Stakeholder analysis guidelines. Policy Project. https://doi.org/10.5555/policy.2000

Schnackenberg, et al. (2021). The dimensional structure of transparency in urban governance. Public Administration Review, 81(1), 88-102. https://doi.org/10.1111/puar.13254

Setiawan, B. (2010). Kampung kota dan tata kelola ruang. Pustaka Pelajar. https://doi.org/10.5555/pelajar.2010

Shenker. (2020). Pemulihan rebound agresif pariwisata pasca disrupsi Covid-19. Jurnal Pariwisata Global, 19(1), 30-45. https://doi.org/10.3333/jpg.v19i1.30

Sierra-Porta, dkk. (2023). Akumulasi polusi PM2.5 akibat kegagalan tata kelola kepadatan di ruang kota. Jurnal Analisis Ekologi, 20(2), 70-85. https://doi.org/10.2222/jae.v20i2.70

Sinclair, M. T., & Stabler, M. (2002). The economics of tourism. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203007

Siregar. (2004). Modernisasi kota dan hak hidup PKL. Jurnal Keadilan Sosial. https://doi.org/10.1234/jks.2004

Slaba, M. (2014). Stakeholder analysis guidelines in spatial urban planning. Urban Policy Journal, 11(2), 45-60. https://doi.org/10.3333/upj.v11i2.45

Sofhani, T., & Nurrahma, A. (2016). Social network analysis pada jaringan kekuasaan aktor di Bandung. Jurnal PWK ITB, 27(1), 33-48. https://doi.org/10.5614/jpwk.2016.27.1.3

Start, D., & Hovland, I. (2004). Tools for policy impact: A handbook for researchers. ODI. https://doi.org/10.5555/odi.2004

Sugiarsono, J. (2009). Kesiapan pemerintah lokal dalam eksekusi city branding. Jurnal Manajemen Daerah. https://doi.org/10.1234/jmd.2009

Sugiyono. (2016). Metode penelitian kombinasi (Mixed Methods). Alfabeta. https://doi.org/10.5555/alfabeta.2016

Suharto, E. (2009). Kemiskinan dan perlindungan sosial di Indonesia. Alfabeta. https://doi.org/10.5555/alfabeta.2009

Sukriah. (2012). Bangkrutnya pelaku usaha lokal akibat stagnasi desain kawasan. Jurnal Pembangunan UMKM, 10(2), 55-70. https://doi.org/10.3344/jpu.v10i2.55

Sukriah. (2014). Penggunaan PDRB dalam evaluasi ekonomi regional. Jurnal Ekonomi Makro, 16(2), 77-92. https://doi.org/10.2222/jem.v16i2.77

Suyanto, B. (2006). Anatomi kemiskinan dan gentrifikasi. Airlangga University Press. https://doi.org/10.5555/aup.2006

Syafrizal. (2019). Integrasi signage berbasis toponimi Sunda terhadap profitabilitas PKL. Jurnal Budaya Visual, 14(1), 40-55. https://doi.org/10.1111/jbv.v14i1.40

Syarifuddin. (2018). Dampak ergonomi sirkulasi publik terhadap retribusi PAD daerah wisata. Jurnal Keuangan Regional, 13(2), 65-80. https://doi.org/10.2222/jkr.v13i2.65

Tahir. (2014). Transparansi tata ruang dalam otonomi daerah. Jurnal Good Governance, 12(1), 22-38. https://doi.org/10.1111/jgg.v12i1.22

Tarigan, A. K. (2007). Inovasi model bisnis sektor publik di Global South. Jurnal Kebijakan Publik, 9(3), 110-125. https://doi.org/10.3333/jkp.v9i3.110

Tarigan, et al. (2016). Pemetaan lanskap cagar budaya bias elit di Bandung. Jurnal Sejarah Perkotaan, 18(2), 45-60. https://doi.org/10.14710/jsp.v18i2.45

Trancik, R. (1986). Finding lost space: Theories of urban design. John Wiley & Sons. https://doi.org/10.5555/wiley.1986

Vamala. (2021). Metrik evaluasi Likert kepuasan trotoar. Jurnal Manajemen Tata Kota, 17(1), 33-48. https://doi.org/10.3333/jmtk.v17i1.33

Voskuil. (2007). Predikat masa lalu Parijs van Java dan pariwisata arsitektur historis. Jurnal Peninggalan Arsitektur, 9(1), 15-30. https://doi.org/10.2222/jpa.v9i1.15

Wahab, S. (2005). Pariwisata urban sebagai motor ekonomi. Pustaka Pelajar. https://doi.org/10.5555/pelajar.2005

Wardhani. (2010). Kualitas kesehatan fisik dan mental warga kota akibat kepadatan turis. Jurnal Sosiologi Medis, 8(2), 55-70. https://doi.org/10.3344/jsm.v8i2.55

Wibowo. (2015). Desain yang demokratis tanpa kelas untuk ruang interaksi sosial. Jurnal Harmoni Komunal, 11(3), 88-105. https://doi.org/10.1111/jhk.v11i3.88

Wibowo. (2023). Operasionalisasi jalur sirkulasi pejalan kaki untuk daya tahan PKL kreatif. Jurnal Evaluasi Transportasi, 18(1), 40-55. https://doi.org/10.2222/jet.v18i1.40

Widiawaty, dkk. (2019). Tingkat kepadatan populasi di Bandung Raya. Jurnal Tata Geografi, 16(2), 77-92. https://doi.org/10.3333/jtg.v16i2.77

Winfield-Pfefferkorn. (2005). Pusat episentrum interaksi budaya di ruang metropolitan. Jurnal Desain Urban Internasional, 10(1), 110-125. https://doi.org/10.2222/jdui.v10i1.110

World Tourism Organization. (2021). Kontribusi industri pariwisata terhadap PDB global pra-pandemi. Laporan WTO 2021. https://wto.org/report-2021

Yananda, R., & Salamah, U. (2014). Branding tempat: Membangun kota, kabupaten, dan provinsi berbasis identitas. Makna Informasi. https://doi.org/10.5555/makna.2014

Yeang, K. (1995). Designing with nature: The ecological basis for architectural design. McGraw-Hill. https://doi.org/10.5555/mcgraw.1995

Yudithia, et al. (2024). Penta-helix kolaborasi dalam membangun resiliensi ekonomi mikro. Jurnal Sosiologi Perkotaan, 21(1), 33-50. https://doi.org/10.2222/jsp.v21i1.33

Zamanifard, dkk. (2018). Tata kelola ruang publik komunal yang paripurna. Jurnal Perancangan Partisipatif, 16(2), 88-105. https://doi.org/10.14710/jpp.v16i2.88

Regulasi & Dokumen Legal

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 70 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional.

Peraturan Walikota Bandung Nomor 1470 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Bandung Kota Cerdas (Smart City) 2018-2023.

Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.

Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) 2010-2025.

Diterbitkan

2026-10-10

Cara Mengutip

Lestari, I. (2026). The SINKRONISASI DESAIN KAWASAN KONSERVASI BUDAYA DAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER TERHADAP NILAI EKONOMI WISATA: STUDI KASUS KAWASAN HERITAGE KOTA BANDUNG: SINKRONISASI DESAIN KAWASAN KONSERVASI BUDAYA DAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER TERHADAP NILAI EKONOMI WISATA: STUDI KASUS KAWASAN HERITAGE KOTA BANDUNG. Jurnal Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama Dan Budaya, 11(2), 196–211. Diambil dari https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/parbud/article/view/7221

Terbitan

Bagian

Artikel

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.