Pengembangan Ekowisata Pada Atraksi Makepung Berbasis Kearifan Lokal Di Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
DOI:
https://doi.org/10.25078/pariwisata.v11i1.5629Kata Kunci:
Ekowisata, Pariwisata berkelanjutan, Kearifan lokal, MakepungAbstrak
Desa Tuwed terletak di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, memiliki tradisi mekepung yang merupakan aktivitas sehari-hari petani Subak Tamansari Puspa di desa ini, di mana kerbau digunakan sebagai tenaga utama untuk membajak sawah dan mengangkut hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi, peran masyarakat lokal, dan implikasi pengembangan Mekepung sebagai atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan di Desa Tuwed, Jembrana. Tradisi Mekepung, yang berakar pada sistem pertanian Subak Tamansari Puspa, awalnya berfungsi sebagai angkutan hasil panen dan hiburan pasca-panen, di mana kerbau memiliki nilai fungsional, sosial, dan ritual (Tumpek Kandang). Latar belakang penelitian adalah penurunan signifikan populasi kerbau dan potensi terkikisnya tradisi ini akibat modernisasi pertanian (penggunaan traktor), yang menuntut upaya strategis pelestarian melalui ekowisata yaitu strategi pengembangan atraksi wisata, peran masyarakat, dan implikasi terhadap sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan masyarakat desa Tuwed. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung di lapangan, wawancara mendalam dengan petani Subak, pemangku adat, dan pelaku pariwisata, serta studi dokumentasi. Data penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mayoritas petani anggota Subak yang memuliakan kerbau, namun kini beralih ke teknologi modern. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa strategi pengembangan ekowisata harus berpusat pada integrasi Mekepung dengan sistem Subak, penyelenggaraan event terjadwal, dan pengembangan produk turunan. Kunci keberlanjutan adalah partisipasi aktif masyarakat sebagai pelaku utama. Implikasi pengembangan ini bersifat positif, yaitu melestarikan nilai-nilai budaya dan spiritual kerbau, memberikan diversifikasi pendapatan bagi petani, serta mendorong konservasi populasi kerbau dan lingkungan Subak. Mekepung bertransformasi dari alat kerja menjadi aset budaya berkelanjutan.
Unduhan
Referensi
Anggi Laras Gandhini, L. S. (2021). Uapaya Pemerintah Desa dalam meningkatkan peran masyarakat menuju desa Ekowisata . Jurnal IDEA, 11-20.
Anggi Laras Gandhini., L. S. (2021). Upaya Pemerintah Desa Dalam Meningkatkan Peran Masyarakat Menuju Desa Ekowisata. 11-20.
Arumsari., T. C. (2024). Analisis Potensi dan Penegembangan Situ Cipanten berbasis ekowisata di Kabupaten Majalengka. Jurnal mashasiswa Biologi, 35-47.
Asmara, A. Y. (2025). Principles of Ecotourism (TIES, 2015). 1-30.
Auri, C. J., Priyoga, I., & Kukuh, D. K. (2022). Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata di Kawasan Pesisir Kepulauan Auri, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. MATRA, 21-32.
Barton, M. A. (2024). Ecosystems Central America and Caribbean. Von Ebsco: https://www.ebsco.com/research-starters/science/ecosystems-central-america-and-caribbean abgerufen
Charlos Johanes, I. P. (2023). Partisifasi masyarakat dalam pengembangan ekowisata di Kawasan Pesisir Kepulauan Auri, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. Matra, 21-32.
Dharmayanti, P. W., & Oka, I. M. (2020). Implikasi Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Bagi Masyarakat di Desa Bongan. SubMitlle, 142-150.
Divayan, I. W. (2023). Pelestarian Fauna Dalam Upacara Tumepek Kandang Sebagai Media Pendidikan Masyarakat Hindu di Bali. Jurnal Pendidikan Agama, 54-60.
Divayan, I. W. (2023). Pelestarian Fauna Dalam Upacara Tumpek Kandang Sebagai Media Pendidikan Bagi Masyarakat Hindu Di Bali. Jurnal Pendidikan Agama, 54-60.
Eurostat. (14. April 2023). Tourism: €572 billion gross value added in the EU. Von Eurostat: https://ec.europa.eu/eurostat/web/products-eurostat-news/ abgerufen
Febrianto, M., Marsiti, C. I., & Damiyati. (2021). Identifikasi Potensi Subak Sambangan Sebagai Daya Tarik Ekowisata di Desa Sambangan. Jurnal BOSAPARIS: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, 118-127.
Ihsan, Sugianto, H., & Hadi, P. (2015). Pengembangan Potensi Ekowisata di Kabupaten Bima. GeoEko, 195-206.
Muh. Febrianto., C. I. (2021). Identifikasi Potensi Subak Sambangan Sebagai Daya Tarik Ekowisata Di Desa Sambangan. Jurnal Bosaparis, 118-127.
Muh. Febrianto., C. I. (2021). Identifikasi Subak Sambangan Sebagai Daya Tarik Ekowisata di Desa Sambangan. 118-127.
Pemerintah Kabupaten Jemebrana. (2015). Geografi dan Topologi. Von Jembranakab: https://jembranakab.go.id/?module=geografi_topologi abgerufen
Rahmi, M., Tahsim, M., & Indahsari, K. (2021). Pengembangan Ekowisata di Indonesia. Seminar Nasional Hasil Riset dan Hasil Pengapdian Masyarakat, 295-308.
Rhama, B. (2019). Peluang Ekowisata dalam Industri 4.0 di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial, Politik, dan Pemerintahan, 37-49.
Sari, D. M., Itta, D., & Naparin, M. (2022). PENGARUH EKOWISATA TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR GOA LOWO DESA TEGALREJO KECAMATAN KELUMPANG HILIR KABUPATEN KOTABARU. Jurnal Sylva Scienteae, 822-826.
Suryanti, P. E., & Indrayasa, K. B. (2021). Perkembangan Ekowisata di Bali: Upaya Pelestarian Alam dan Budaya serta Pemberdayaan Masyarakat Lokal. Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya, 48-56.
Yusrisal, F., & Asmoro, A. Y. (2020). Dampak Sosial Budaya Pariwisata: Masyarakat Majemuk, Konflik, dan Integrasi Sosial Yogyakarta. Pariwisata, 92-105.
Zidan, M. A., & Tsabita, R. N. (2023). Bagaimana Ekowisata Berkelanjutan di Indonesia Meningkatkan Konservasi Alam dan Ekonomi Lokal? Von MOOC UGM: https://mooc.ugm.ac.id/bagaimana-ekowisata-berkelanjutan-di-indonesia-meningkatkan-konservasi-alam-dan-ekonomi-lokal/#:~:text=Potensi%20ekowisata%20menjadi%20sangat%20luas,ekonomi%20masyarakat%2C%20dan%20meningkatkan%20pendapatan. abgerufen

