KONTROVERSI KONTEN SEJARAH PADA BUKU NON TEKS PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD KELAS 1 SEMESTER 2 KURIKULUM 2013
DOI:
https://doi.org/10.25078/japam.v4i01.3136Kata Kunci:
Content of the History of Hindu Religion, Non-Text Books on Hindu Religious Education and Characteristics of Class I Elementary School Semester 2Abstrak
Konten sejarah agama Hindu akhir-akhir ini selalu muncul dalam buku teks maupun non teks Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Tujuan dimunculkannya konten sejarah agama Hindu dalam buku teks maupun non teks Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti adalah agar siswa mengetahui berbagai peristiwa di masa lampau berdasarkan fakta kronologi secara empiris. Namun pada kenyataannya konten sejarah agama Hindu yang diuraikan tidaklah sesuai dengan kajian historis. Bahkan konten sejarah yang bersifat hoax pun masuk ke dalam buku teks maupun non teks Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kontroversi/perdebatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemaparan tentang konten sejarah yang bersifat hoax khususnya pada buku non teks Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SD Kelas I Semester 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa konten sejarah agama Hindu dan konten gambar yang disajikan dalam buku non teks Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas I SD Semester 2 tidak sesuai dengan fakta sejarah dan memicu kontroversi di masyarakat. Ini adalah sebuah kekeliruan dengan menyajikan konten sejarah fiktif terutama tentang kerajaan Salakanagara.
Referensi
Asisi Channel. Salakanagara, (Konon) Kerajaan Tertua di Indonesia & Polemik Naskah Wangsakerta (online), Retrieved December 20, 2022 from youtube.com website: https://www.youtube.com/watch?v=1fvPZjDwnJE
Boechari. (2012). Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Ekadjati, E. S. (2005). Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Bandung: PT Dunia Pustaka Jaya
Ismaun. (2005). Pengantar Belajar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung: Historia Utama Press
Groeneveldt, W.P . (2009). Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu.
Basri, I., & Hastuti, H. (2020). Bagaimana Sejarah Seharusnya Diajarkan?. Jurnal Kronologi, 2(4), 140-148.
Hastuti, H., Basri, I., & Zafri, Z. (2021). Meramu Materi Pembelajaran Sejarah Berlandaskan Analisis Historical Thinking. Diakronika, 21(1), 57-70.
Herlina, N. (2020). Metode Sejarah. Bandung: Satya Historika.
Lubis, N. H. (2002). Kontroversi tentang naskah Wangsakerta. Humaniora, 14(1), 20-26.
Rulianto, R. (2018). Pendidikan Sejarah Sebagai Penguat Pendidikan Karakter. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, 4(2), 127-134.
Sjamsuddin, Helius. (2012). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Zed, M. (2018). Tentang konsep berfikir sejarah. Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya, 13(1).



