- TANTRAISME : MENGKONSTRUKSI KESADARAN TRANSENDENTAL MELALUI RITUAL INTIM EROTIS
-
DOI:
https://doi.org/10.25078/sphatika.v16i1.4762Kata Kunci:
Kata Kunci : Tantraisme, Kesadaran, Transendental, Intim ErotisAbstrak
Abstrak
Fenomena penyimpangan seksual marak terjadi sebagai bentuk penyempurnaan dari terjadinya berbagai kasus amoral di dunia. Bahkan, fenomena penyimpangan seksual kerap terjadi pada lingkungan atau institusi yang berlabelkan keagamaan. Hal ini terjadi karena pengkultusan istilah tabu dalam seksual yang hingga dewasa ini dipahami oleh umat manusia secara kolektif. Ini menandakan bahwa ada polarisasi pikiran yang terjadi sejak masa lampau, yang membedakan koridor spiritualitas dan seksualitas dalam sekat yang tebal. Dalam hal ini, seksualitas menjadi suatu hal yang bersifat destruktif dan dikonotasikan negatif. Demikian halnya dengan Tantra, yang selalu dikonotasikan negatif karena dalam ajarannya memuat konsep-konsep seksual sebagai salah satu bentuk ritual.
Untuk memperoleh data yang bersifat valid dan komprehensif, tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, artinya penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dan mendeskripsikan berbagai data yang diperoleh melalui pengumpulan data yang telah dihimpun, selanjutnya melakukan sintesis data yaitu melalui proses memilah dan memilih berbagai data yang relevan sehingga mampu menghasilkan sintesa penelitian yang akurat.
Dalam perkembangannya, Tantra dipandang dalam dua paradigma yang bertentangan, sehingga perlu dikaji dalam dialektika pikiran, karena Tantra merupakan ajaran yang telah mendunia, dan istilah Tantra pun menjadi tidak asing dalam perkembangan manusia secara sosial. Dalam tulisan ini, disajikan pemahaman holistik mengenai Tantra sebagai media konstruksi kesadaran transendental melalui ritual-ritual erotis. Dalam pandangan Tantra, seksualitas menjadi salah satu upaya mencapai kebebasan karena ajaran Tantra tidak saja didefinisikan sebatas aktivitas persetubuhan atau biologis, tetapi terdapat nilai-nilai Ketuhanan di dalamnya. Sebagai bentuk faktual, spiritualitas Tantra adalah tersenyawanya unsur kama petak dan kama bang menjadi Kama Dewa (Ongkara), yang dalam pandangan semiotika dipahami sebagai keadaan Tuhan yang penuh dengan ketenangan serta tanpa keterikatan unsur awidya.
Kata Kunci : Tantraisme, Kesadaran, Transendental, Intim Erotis
Referensi
Bakker, A dan Zubair, A.C. 1990. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Osho. 2003. Tantra Vision The Door To Nirvana. Delhi : Diamond Pocket Book.
Rice, Howard L. 1991. Reformed Spirituality: An Introduction for Believers. Louisville: Westminster/John Knox Press
Sandika, I Ketut. Tantra Ilmu Kuno Nusantara. Tanggerang Selatan : Javanica
Singgih, Emanuel G. 2019. Spiritualitas dan Seksualitas Lintas Agama untuk Semua (Termasuk LGBT) Dalam Stephen Suleeman dan Amadeo D. Udampoh, eds., Siapakah Sesamaku: Pergumulan Teologi dengan Isu-isu Keadilan Gender, 91–106. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Sudiasta, I Gusti Bagus. 2002. Katuturan Semara Tantra. Singaraja : Gedong Kirtya.
Surya Pradnya, I Made Adi. 2019. Rekonversi Agama Kembali Ke Jalan Dharma. Denpasar : Pustaka Ekspresi.
Suwantana, I Gede. 2011. Seks Sebagai Pendakian Spiritual. Denpasar : Pustaka Bali Post.
Walker, Kenneth. 2005. The Handbook of Sex. Yogyakarta. Diva
Woodroff, Sir John. 1990. Principles of Tantra. The Theosophical Society Adyar Madras: Vasantra Press.
Zoetmulder, PJ., 1982. Old Javanese-English Dictionary 3 jilid; 's Gravenhage: Martinus Nijhoff.










