PRAJĀPATI DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ŚIVA SIDDHĀ NTA: KAJIAN FILOSOFIS RITUAL NEBUS URIP DI PURA DALEM DESA ADAT PEREAN, BATURITI TABANAN
DOI:
https://doi.org/10.25078/sjf.v17i2.7118Kata Kunci:
Śiva Siddhānta, Prajāpati, Praśna Upaniṣad, Hermeneutika Hindu, Nebus Urip.Abstrak
Penelitian ini mengkaji makna filosofis Prajāpati dalam upacara nebus urip pada masyarakat Hindu melalui perspektif Filsafat Śiva Siddhānta. Kajian ini berangkat dari pemahaman masyarakat mengenai urip sebagai daya dan keberlangsungan kehidupan yang memiliki korespondensi makna dengan konsep prāṇa dalam Prāśna Upaniṣad, khususnya II.7 yang menghubungkan prāṇa dengan Prajāpati sebagai daya yang menopang kehidupan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, pengodean, kategorisasi tematik, interpretasi, dan sintesis. Hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer digunakan sebagai kerangka interpretasi untuk mempertemukan pengalaman masyarakat, tradisi, teks keagamaan, dan perspektif filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nebus urip tidak semata-mata merupakan tindakan ritual untuk memohon atau memelihara kehidupan, tetapi mengandung makna simbolik mengenai keseimbangan antara ātman, prāṇa, dan kehidupan manusia dalam hubungan dengan Sang Hyang Prajāpati. Konsep urip memiliki korespondensi dengan prāṇa sebagai daya vital kehidupan, sedangkan keadaan ngelayang-ngelayung merepresentasikan ketidakseimbangan kehidupan secara lahir dan batin. Dalam perspektif Śiva Siddhānta, pemeliharaan urip merefleksikan upaya mencapai kehidupan yang harmonis, damai, dan selaras antara dimensi sekala dan niskala. Dengan demikian, filosofi Prajāpati dalam nebus urip memperlihatkan keterhubungan antara penciptaan, daya kehidupan, keseimbangan kosmis, dan kesadaran spiritual manusia.

















