ETIKA LINGKUNGAN DAN KESADARAN EKOLOGIS DALAM WISATA ALAM LUBUK BONTA: SEBUAH KAJIAN EKO FILOSOFIS
DOI:
https://doi.org/10.25078/sjf.v17i2.5232Kata Kunci:
Eko filosofis, Kesadaran Ekologis, Etika Lingkungan, Wisata AlamAbstrak
Degradasi lingkungan yang terus terjadi di berbagai destinasi wisata alam menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berbasis wisata kerap berjalan tanpa landasan etika lingkungan dan kesadaran ekologis yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik etika lingkungan dan kesadaran ekologis pengelola, pelaku usaha, dan wisatawan di kawasan wisata Lubuk Bonta melalui pendekatan eco philosophy, yang berpijak pada gagasan deep ecology Arne Naess dan menempatkan relasi antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan spiritual dan ekologis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus eksploratif. Informan dipilih secara purposive, terdiri atas pengelola sekaligus pemilik warung, pelaku usaha, dan pengunjung yang terlibat langsung dalam aktivitas wisata. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan alam di kawasan ini tidak hanya didorong oleh fungsi ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai moral dan spiritual informan. Pengelola memandang alam sebagai titipan yang harus dijaga, tercermin dari penyediaan tempat sampah dan larangan membuang sampah sembarangan, sementara larangan menangkap ikan di kawasan pemandian merepresentasikan nilai eco-centric yang telah lama diwariskan secara kultural. Wisatawan turut menunjukkan kesadaran ekologis yang tumbuh dari pengalaman langsung, bahkan mengusulkan inisiatif partisipatif seperti membawa tempat sampah pribadi. Nilai-nilai ini tidak hanya muncul sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan formal, tetapi lahir dari pemahaman moral dan spiritual informan mengenai kewajiban menjaga lingkungan. Berbeda dari kajian terdahulu yang cenderung berfokus pada aspek teknis dan kebijakan pengelolaan lingkungan wisata, penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengungkap dimensi filosofis-personal di balik praktik ekologis sehari-hari, sekaligus menegaskan relevansi eco philosophy sebagai kerangka analisis bagi pengelolaan wisata alam yang lebih etis, berkelanjutan, dan bermakna secara spiritual.

















