INTERSUBJEKTIVITAS WAJAH DAN TANGGUNG JAWAB HUMANITER: MENYIKAPI AMORALITAS PERANG
DOI:
https://doi.org/10.25078/sjf.v16i1.3300Kata Kunci:
Etika Wajah, Tanggung Jawab, Perang, Being-for-the-other, intersubjektivitasAbstrak
Fokus penelitian pada penggalian makna dari etika wajah menurut Emanuel Levinas dalam menerangi amoralitas yang terjadi dalam perang. Bagi Levinas, manusia adalah “being-for-the-other”; mahluk yang hadir di dunia bagi sesamanya. Levinas menggagas bagaimana “being-for-the-other” senantiasa memiliki hakikat untuk bertanggung jawab atas kehadiran manusia lainnya dengan sorge (kepedulian). Di satu sisi lainnya, manusia sering kali menjadi “binatang” yang haus akan kekuasaan, yang hanya didapatkan jika mereka menaklukkan sesamanya, khususnya dalam hal ini adalah perang. Manusia kian lama menunjukkan kehidupan yang sama sekali tidak menaruh kepedulian terhadap sesamanya dengan tak henti-hentinya berperang. Oleh karena itu, menggali etika wajah dan tanggung jawab humaniter menurut pemikiran Levinas akan menemukan sikap intersubjektif yang dapat dihayati manusia untuk menyadari manusia lainnya sebagai eksisten yang juga memiliki pengalaman dan perasaan, bernilai dan berharga. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa etika wajah memberi pemahaman intersubjektif kepada setiap manusia. Sumbangan penelitian ini untuk mengerti bahwa perang adalah amoralitas; yakni destruktivitas kemanusiaan yang melanggar prinsip intersubjektivitas dan tanggung jawab humaniter.
















