Dilema Eksklusivisme di Tengah Pluralisme: Reinterpretasi Sloka Sarasamuccaya 35 dalam Menghadapi Fenomena Klaim Kebenaran di Indonesia

Authors

  • Ida Bagus Putu Adnyana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • I Wayan Nerta UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

DOI:

https://doi.org/10.25078/vs.v12i1.6336

Keywords:

dharma, eksklusivisme, inklusivisme, klaim kebenaran , sarasamuccaya

Abstract

Fenomena klaim kebenaran (truth claim) dan eksklusivisme beragama di Indonesia saat ini mengancam kohesi sosial dan integrasi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan reinterpretasi terhadap Sloka 35 kitab Sarasamuccaya guna menemukan landasan teologis yang inklusif dalam menghadapi polarisasi identitas. Menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan hermeneutika Gadamerian, penelitian ini mendialogkan "cakrawala teks" klasik dengan konteks sosiokultural Indonesia modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksklusivisme dipicu oleh krisis identitas, politisasi agama, dan rendahnya literasi digital. Reinterpretasi Sloka 35 menggeser makna Dharma dari identitas kelompok yang kaku menuju "Kebenaran Fungsional" universal, yang menegaskan bahwa meski cara beragama berbeda-beda, semuanya menuju pada satu muara kebenaran yang sama. Kesimpulannya, Sarasamuccaya menawarkan konsep inklusivisme yang memandang perbedaan sebagai kekayaan jalan menuju keadilan dan harmoni. Implikasinya, diperlukan transformasi kurikulum pendidikan agama berbasis nilai universal atau inklusif, penguatan narasi moderasi oleh tokoh agama, serta kebijakan publik yang non-diskriminatif untuk meredam ketegangan sosial.

Kata Kunci: dharma; eksklusivisme; inklusivisme; klaim kebenaran; sarasamuccaya.

Published

30-04-2025

Issue

Section

##section.default.title##