https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/issue/feedSang Acharya: Jurnal Profesi Guru2025-11-28T12:43:28+08:00I Gede Dedy Diana Putradedydiana@uhnsugriwa.ac.idOpen Journal Systems<p>Sang Acharya: Jurnal Profesi Guru merupakan jurnal yang diterbitkan secara online dengan nomor e-issn <a href="http://issn.lipi.go.id/">2722-8614</a>, wadah untuk mempublikasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan topik profesi keguruan, yang meliputi pengembangan kompetensi pedagogie, profesional, sosial maupun kepribadian. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun pada Bulan April dan Oktober.</p>https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5644IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAME TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 KENDERAN2025-11-03T06:23:31+08:00Ni Ketut Srie Kusuma Wardhaniekinerjasriekusuma@gmail.com<p>Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di kelas IV SD Negeri 3 Kenderan masih berpusat kepada guru dengan diterapkannya metode ceramah yang menyebabkan siswa mengaku bosan dan tidak tertarik pada pembelajaran sehingga menjadi salah satu penyebab rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa. <em>Teams Game Tournament</em> sebagai model pembelajaran yang berpusat pada siswa diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dirancang selama 2 siklus, metode pengumpulan data menggunakan lebar observasi, tes dan angket serta dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dari kondisi pra siklus dengan nilai rata-rata 7,76 meningkat menjadi 14,04 pada siklus II dengan kategori aktif, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari kondisi awal dengan nilai rata-rata 69,76 dan presentase ketuntasan klasikal sebesar 47,61% meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 80 dan presentase ketuntasan klasikal sebesar 90,47%. Respon siswa memperoleh nilai rata-rata 19,14 pada kategori Positif. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe <em>teams game tournament</em> berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.</p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/4320PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) KELAS XII PH 1 SMK 5 DENPASAR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2024/20252024-11-26T07:10:56+08:00I Kadek Arta Jayaikadekartajaya74@gmail.com<p>Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui: 1) proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT; 2) meningkatkan keaktifan peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT; dan 3) meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.</p> <p>Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga Nopember 2024 di Kelas XII PH 1 SMK Negeri 5 Denpasar. Subyek penelitian adalah peserta didik kelas XII PH 1 SMK Negeri 5 Denpasar berjumlah 35 peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes hasil belajar dan dokumentasi. Uji kualitas instrumen yang dilakukan adalah validitas instrumen, reliabilitas instrumen, tingkat kesukaran butir soal dan daya pembeda soal. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.</p> <p>Hasil penelitian ini adalah: 1) Proses pembelajaran menggunakan metode NHT berjalan dengan lancar dan sesuai dengan perencanaa yang dilakukan, aktivitas peserta didik tergolong tinggi, yaitu 88,39%; 2) Metode NHT dapat meningkatkan keaktifan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kategori keaktifan dari siklus I ke siklus II yaitu dari sedang (66,07%) ke tinggi (88,39%); 3) Metode NHT dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, penelitian siklus I hasil pre testmenunjukkan presentase ketuntasan peserta didik 3% dan hasil post testmenunjukkan presentase ketuntasan peserta didik 96%. Pada pre testsiklus II menunjukkan presentase ketuntasan peserta didik 0% dan hasil post test menunjukkan presentase ketuntasan peserta didik 97%. Peningkatan nilai peserta didik dapat dilihat dari mean nilai siklus I 31,00 menjadi 36,00 pada siklus II.</p> <p> </p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5739PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI GENERASI ALPHA PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 2 TAMANBALI KABUPATEN BANGLI2025-11-21T05:41:06+08:00Ni Kadek Sri Wahyunikadek27sri@gmail.comMade Juniari Wedrayantijuniari@gmail.com<p>Penggunaan media sosial seyogianya tetap memperhatikan aspek etika agar tidak merugikan pihak lain dan tidak menimbulkan konsekuensi hukum. Dalam proses komunikasi, penting bagi setiap individu untuk memiliki etika serta cara yang tepat dalam menyampaikan informasi atau gagasan, baik sebagai komunikator maupun komunikan, guna menghindari gangguan dalam interaksi komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan wawasan terkait penggunaan media sosial serta pengaruhnya terhadap perubahan pola komunikasi Generasi Alpha, khususnya pada siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Tamanbali. Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana pola komunikasi Generasi Alpha di SD Negeri 2 Tamanbali? (2) Bagaimana pengaruh media sosial terhadap perubahan pola komunikasi Generasi Alpha pada siswa di sekolah tersebut? (3) Apa dampak psikologis dari perubahan pola komunikasi Generasi Alpha terhadap siswa SD Negeri 2 Tamanbali?</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 2 Tamanbali, Kabupaten Bangli. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Penentuan informan dilakukan secara purposive, sementara teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penyajian hasil analisis menggunakan teknik formal, yaitu dengan mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan data dalam bentuk uraian naratif tanpa menggunakan pendekatan statistik.</p> <p>Hasil akhir dalam penelitian ini adalah (1) Perubahan Pola komunikasi pada Sekolah Dasar Negeri 2 Tamanbali mencerminkan transformasi dalam dunia pendidikan yang semakin terhubung dengan teknologi dan keterlibatan lebih aktif dari orang tua dan siswa. Pola komunikasi primer pada siswa sekolah dasar melibatkan berbagai bentuk komunikasi, baik verbal maupun non-verbal, yang sangat penting untuk mendukung perkembangan sosial, emosional, dan akademik mereka. Penting bagi sekolah untuk menyeimbangkan antara komunikasi langsung dan tidak langsung agar dapat mencapai tujuan komunikasi yang optimal. (2) Implikasi Media Sosial Pada Perubahan Pola Komunikasi Generasi Alpha Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Taman Bali dimana Media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan Generasi Alpha, termasuk di kalangan siswa sekolah dasar. Generasi ini tumbuh dalam era digital. Perubahan pola komunikasi akibat perkembangan teknologi digital dan media sosial tidak hanya berdampak pada cara siswa sekolah dasar berinteraksi, tetapi juga memberikan implikasi psikologis yang cukup signifikan. (3) Dampak Perubahan Psikologis Pola Komunikasi Generasi Alpha Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Tamanbali dimana pergeseran perhatian dan interaksi siswa sekolah dasar dari hubungan sosial langsung (tatap muka) ke hubungan virtual atau digital, terutama melalui media sosial, game online, dan aplikasi perpesanan. Pengalihan hubungan sosial ke arah komunikasi digital pada siswa sekolah dasar berdampak pada penurunan kualitas hubungan personal, berkurangnya keterampilan sosial, serta meningkatnya risiko kesepian dan keterputusan emosional.</p> <p><strong>Kata Kunci: <em>Media Sosial, Perubahan Pola Komunikasi, dan Generasi Alpha</em></strong></p>2025-12-31T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5654Strategi Guru Dalam Internalisasi Budaya Sadar Lingkungan Di SD Negeri 4 Kawan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli2025-11-03T22:40:40+08:00I Wayan Yudhasatya Dharmalestarieka071492@gmail.comNi Wayan Yusi Arminiusi.armini14@gmail.com<p>Melalui proses pendidikan yang dilakukan oleh Guru di sekolah diharapkan mampu menggugah kesadaran siswa secara laihir dan batin. Seperti yang dilakukan oleh lembaga pendidikan di SD Negeri 4 Kawan. Salah satu program yang sangat menarik untuk diperhatikan di sekolah dasar tersebut adalah program perduli lingkungan atau sadar lingkungan. Program ini dibuat bertujuan agar peserta didik memiliki perhatian yang seksama pada lingkungan sekitarnya. Penulisan jurnal ini menempuh beberapa metode diantaranya metode pengumpulan data yang melalui prosedur observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Metede analisis data dalam hal ini menerapkan tehnik reduksi, klasifikasi, interpretasi, dan menarik kesimpulan data. Setrategi guru dalam internalisasi budaya sadar lingkungan di SD Negeri 4 Kawan yakni menggunakan tiga bentuk strategi utama yang meliputi Problem Based Instruction, Jigsaw Learning, dan Outdoor Study. Problem Based Instruction merupakan pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengembangkan pengetahuan baru bagi peserta didik melalui kerja kelompok yang membutuhkan penyelesaian nyata sehingga membuat siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Jigsaw Lerning dirancang untuk menciptakan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa pada suatu mata pelajaran yang ditugaskannya berupa model pembelajaran yang bertujuan agar siswa bisa saling bergantung satu sama lain untuk meraih tujuan atau keberhasilan bersama. Serta Outdoor study merupakan upaya untuk mengarahkan siswa untuk melakukan aktivitas yang dapat membawa mereka mengamati lingkungan sekitar, sesuai dengan materi yang diajarkan dan merupakan bentuk pendidikan di luar kelas yang lebih mengacu pada pengalaman dan pendidikan lingkungan.</p> <p> </p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5645PENERAPAN PROGRAM FIVE-SI DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DI SMAN 1 RENDANG2025-11-03T06:36:53+08:00Made Yuda Asmaraiasmara29@guru.sma.belajar.id<p>Pendidikan abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki kecakapan berpikir kritis, literasi digital, kemampuan kolaborasi, serta kesadaran reflektif untuk menghadapi perubahan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan program Five-Si—yang meliputi Afirmasi, Literasi, Interaksi, Kolaborasi, dan Refleksi—dalam pembelajaran mendalam (deep learning) di SMAN 1 Rendang. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Five-Si mampu meningkatkan motivasi belajar, budaya literasi, interaksi sosial, dan kebiasaan reflektif siswa. Program ini juga menumbuhkan iklim pembelajaran yang positif dan berpihak pada murid sesuai prinsip Kurikulum Merdeka.</p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5625Politisasi terhadap Peran Guru dalam Pembentukan Karakter Siswa2025-11-09T00:54:35+08:00Kadek Agus Wardanaagoes.wardana89@gmail.comI Made Wirahadi Kusumawirahadikusuma200030@gmail.com<p>Artikel berjudul “Politisasi terhadap Peran Guru dalam Pembentukan Karakter Siswa” membahas bagaimana intervensi politik dalam dunia pendidikan memengaruhi kinerja dan fungsi guru sebagai pendidik sekaligus pembentuk karakter peserta didik. Melalui studi literatur dari berbagai sumber berita dan artikel online, penelitian ini menyoroti dua aspek utama, yaitu dampak politisasi terhadap peran guru dan upaya menjaga profesionalitas guru di tengah tekanan politik. Politisasi pendidikan dapat menurunkan netralitas, mengganggu proses pembelajaran, serta melemahkan fungsi guru sebagai teladan moral. Namun, profesionalitas guru dapat tetap terjaga melalui peningkatan kompetensi, penguatan etika profesi, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada independensi pendidikan. Dengan demikian, guru diharapkan mampu mempertahankan integritas dan fokus pada pembentukan karakter siswa secara objektif dan berkeadilan.</p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5778STUDI ETNOGRAFI: STRATEGI SAPA LITERASI DALAM PENGUATAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) DI SD NO. 3 KUTUH2025-11-28T12:43:28+08:00I Gusti Made Kusuma Dhanai1938@guru.sd.belajar.id<p>Penelitian etnografi kualitatif ini bertujuan menguji dan merumuskan Model Praktik Terbaik Strategi SAPA Literasi (Sinergi, Aksi, Pembelajaran, Apresiasi) dalam penguatan Gerakan Literasi Sekolah di SD No. 3 Kutuh. Metode studi melibatkan observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Implementasi SAPA sebagai struktur baru sekolah berhadapan dengan habitus lama, menciptakan tantangan dualistik, yakni struktural dan psikologis. Hasil studi menunjukkan SAPA berhasil mentransformasi budaya literasi menjadi Habitus kolektif. Implikasinya mencakup pergeseran peran siswa menjadi tutor sebaya dengan otonomi tinggi dan peningkatan kinerja guru sebagai model praktik baik dan integrator kurikulum. Kontribusi akhir adalah formulasi Model Praktik Terbaik yang membuktikan bahwa Gerakan Literasi Sekolah dapat direplikasi melalui kerangka kerja terstruktur yang didukung oleh prinsip Penguatan Positif, menjamin keberlanjutan program.</p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/4010RELASI KUASA TERHADAP KONSTRUKSI PENGETAHUAN DI SEKOLAH PERSPEKTIF MICHEL FOUCAULT DAN REFLEKSI ATAS SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA2025-11-01T01:03:05+08:00Gede Agus Siswadi gede.agus.siswadi@mail.ugm.ac.id<p style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kuasa dalam pembentukan konstruksi pengetahuan di lingkungan pendidikan, khususnya pada sistem pendidikan Indonesia, dengan menggunakan perspektif teori Michel Foucault. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik filosofis. Penelitian ini menyoroti bagaimana kuasa berperan sebagai elemen kunci dalam proses konstruksi pengetahuan di sekolah-sekolah. Konsep kuasa Foucault digunakan untuk memahami bagaimana institusi pendidikan, melalui kurikulum, aturan, penilaian, dan struktur kelembagaan, memengaruhi pembentukan pengetahuan yang diterima oleh siswa. Analisis dalam penelitian ini juga menyoroti bagaimana kuasa politik, ideologi, dan nilai-nilai budaya tercermin dalam sistem pendidikan Indonesia, membentuk narasi tertentu dalam kurikulum dan pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kuasa berperan secara signifikan dalam konstruksi pengetahuan di sekolah, dengan pengaruh yang kuat dari faktor-faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah, ideologi, dan nilai-nilai budaya. Implikasinya adalah perlunya refleksi kritis terhadap sistem pendidikan Indonesia, dengan menekankan inklusivitas, pluralitas perspektif, dan pemenuhan kebutuhan siswa yang beragam untuk memperkaya konstruksi pengetahuan dalam kurikulum dan proses pembelajaran.</p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5670EFEKTIVITAS PROGRAM SPILSAIANG DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DAN INTERNALISASI NILAI-NILAI DHARMA PADA SISWA DI SMA NEGERI 2 BANGLI2025-11-04T15:31:07+08:00I Dewa Made Weda Muditadewaweda92@gmail.com<p>Program “Spilsaiang“ Salam Pagi dan Lepas Siang merupakan kegiatan rutin pembinaan kebiasaan yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Bangli dengan tujuan utama menumbuhkan kedisiplinan dan memperkuat karakter siswa. Program ini dilaksanakan setiap Senin sampai Jumat dengan jadwal terstruktur: Sapa Pagi pukul 06.50-07.15 WITA dan Sapa Siang pukul 15.35-15.55 WITA. Pelaksanaan program melibatkan kolaborasi antara guru yang bertugas dan anggota OSIS, yang ditugaskan sesuai jadwal harian. Evaluasi berkala dilakukan untuk memantau kemajuan dan efektivitas, serta mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan program. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa program “Spilsaiang” sangat efektif dalam meningkatkan kedisiplinan siswa, terbukti dengan penurunan signifikan jumlah siswa yang terlambat dibandingkan periode sebelumnya. Dampak positif lainnya antara lain penguatan karakter siswa melalui kebiasaan saling menyapa, terjalinnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa yang bertugas, terciptanya suasana pagi yang kondusif, interaksi guru dan siswa yang lebih hangat, dan kesiapan siswa yang lebih baik untuk memulai pembelajaran. Lebih mendalam lagi, program “Spilsaiang” juga berfungsi sebagai ruang strategis untuk menginternalisasi nilai-nilai <em>Dharma</em>. Rutinitas sapaan pagi dan siang secara konsisten memperkuat nilai-nilai <em>Dharma</em>, seperti: <em>Satya</em> (kejujuran/kepatuhan), yang tercermin dalam kepatuhan disiplin terhadap aturan kedatangan; <em>Śauca</em> (kesucian/kebersihan), yang diperkuat melalui pakaian dan atribut sekolah yang disiplin; dan <em>Kṣānti </em>(kesabaran/toleransi), yang ditunjukkan melalui sikap toleran dan sapaan yang lembut. Dengan demikian, program “Spilsaiang” berkontribusi dengan baik dan signifikan dalam membentuk kedisiplinan siswa sekaligus memperkuat nilai-nilai karakter di SMA Negeri 2 Bangli.</p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guruhttps://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/SA/article/view/5647INTEGRASI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI BERLANDASKAN PANCASILA DENGAN METODE PROBLEM STUDENT CASE LEARNING (PSCL) UNTUK GENERASI MUDA INDONESIA2025-11-03T06:36:19+08:00Natalino Muni Nepa Rassilinoneparasi@gmail.com I Putu Wirajaya Mahardikawirajaya@gmail.com<p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><strong><em>The situation indicates that Indonesia’s Corruption Perception Index has declined significantly, from 38 to 34, ranking 110th out of 180 countries. This urgency is further aggravated by the discovery of 579 corruption cases throughout 2022, an 8.63% increase from 533 cases in 2021 (ICW, 2022). Corresponding to this condition, a transformation in anti-corruption mindsets is imperative to ensure the development of Indonesia’s future leaders who are honest, fair, and possess integrity. This article aims to provide an overview of corruption prevention efforts initiated by educational institutions in collaboration with teachers. Therefore, the integration of the PSCL (Problem Student Case Learning) method is implemented, focusing on the habituation of anti-corruption education alongside the integration of Pancasila Education. This method is carried out through three stages: socialization, implementation, and evaluation over a four-month observation period. The study employs a quantitative descriptive method, analyzing data from 571 respondents through pre-test and post-test assessments. The analysis examines behavioral changes in respondents regarding leadership characteristics based on the aspects of divinity, humanity, unity, democracy, justice, and anti-corruption education knowledge. The results show positive improvements across all aspects in the program evaluation, with awareness levels in the aspects of divinity (86.86%), humanity (75.48%), unity (78.63%), democracy (73.90%), and justice (80.56%), indicating progress in preparing future leaders who are honest and uphold integrity.</em></strong></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>Integrity, Corruption, Education, PSCL</em></strong></p>2025-11-22T00:00:00+08:00Hak Cipta (c) 2025 Sang Acharya: Jurnal Profesi Guru