https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/issue/feed Pangkaja: Jurnal Agama Hindu 2025-09-30T00:00:00+08:00 Pangkaja jurnalpangkaja@gmail.com Open Journal Systems <table class="data" width="100%" bgcolor="#f0f0f0"> <tbody> <tr valign="top"> <td width="20%">Nama Jurnal</td> <td width="80%">: <a href="http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH" target="_blank" rel="noopener"><strong>Pangkaja: Jurnal Agama Hindu</strong></a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Frekuensi</td> <td width="80%">: <strong>Maret dan September</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">DOI</td> <td width="80%">: <strong><a href="https://doi.org/10.25078/pjah.v26i1.1425">https://doi.org/10.25078</a></strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">ISSN Cetak</td> <td width="80%">: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1180428961" target="_blank" rel="noopener"><strong>1412-7474</strong></a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">ISSN Online</td> <td width="80%">: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1533781295" target="_blank" rel="noopener"><strong>2623-2510</strong></a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Indexing</td> <td width="80%">: <strong><a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/32019" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a>, <a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=2Q4s1mcAAAAJ&amp;hl=id" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>, <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2623-2510" target="_blank" rel="noopener">Road</a></strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Editor-in-Chief</td> <td width="80%">: <a href="https://scholar.google.com/citations?user=8EmyeioAAAAJ&amp;hl=id&amp;oi=ao" target="_blank" rel="noopener"><strong>I Gede Suwantana</strong></a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Kontak</td> <td width="80%">: <strong>jurnalpangkaja@gmail.com</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Penerbit</td> <td width="80%">: <a href="https://uhnsugriwa.ac.id/" target="_blank" rel="noopener"><strong>Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar</strong></a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Deskripsi</td> <td width="80%"> <p dir="ltr">Pangkaja: Jurnal Agama Hindu merupakan jurnal ilmiah yang dikelola oleh Program Studi Magister Brahma Widya Pascasarjana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Pangkaja: Jurnal Agama Hindu adalah media untuk mempublikasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan berbagai masalah Agama, Sosial dan Budaya Hindu yang semakin kompleks dewasa ini seiring derasnya arus globalisasi.<br />Fokus Pangkaja: Jurnal Agama Hindu adalah Agama, Sosial, dan Budaya Hindu.</p> </td> </tr> </tbody> </table> https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/3942 Bangunan Bali dalam Perspektif Asta Kolasa Kosali 2024-07-15T04:30:19+08:00 I Made Adi Purna Jaya wayanbali2105@gmail.com <p style="font-weight: 400;">arsitektur Bali banyak terbuat dari batu-batuan alam dan jenis kayu tertentu yang kesemuanya dipilih secara bijak berdasarkan atas kepercayaan terhadap manfaat dan urgensi penggunaanya. Disisi lain, arsitektur Bali juga sangat memperhatikan kondisi tanah maupun topografis yang nantinya dipergunakan sebagai dasar atau lahan dari pembangunan secara utuh dari berbagai klasifikasi arsitektur tradisional Bali. Bahkan secara estetis, terdapat beberapa ukiran ataupun ornamen tertentu dalam arsitektur Bali yang terinspirasi dari kondisi alam. Sehingga, dapat dikatakan bahwa berbagai hal bersifat teknik maupun estetik dalam pembangunan arsitektur Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh penggambaran bangunan-banguan di Bali sesuai dengan Arsitektur masyarakat Bali. Data-data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan observasi selanjutnya dilakukan reduksi untuk mendukung hasil yang diinginakan.</p> <p style="font-weight: 400;">Struktur Bahan Penyusun Arsitektur Bali yang menjelaskan mengenai bahan apa saja yang diperkenankan dipergunakan dalam membuat bangunan Bali, kemudian kedua merupakan Konsep Tata Ruang Arsitektur Bali Rumah Bali harus sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali, yang mengatur tata letak ruang dan bangunan. Rumah Bali tidak merupakan satu kesatuan dalam satu atap. Tetapi, terbagi dalam beberapa ruangan yang berdiri sendiri.&nbsp; Pola bangunan dalam kompleks rumah Bali diatur menurut konsep arah angin dan sumbu Gunung Agung, yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur suci mereka. Ketiga adalah Konsep Ukuran Bangunan Arsitektur Bali merupakan aturan penataan bangunan yang diukur berdasarkan ukuran tubuh pemilik rumah, selanjutnya Konsep Religi dimana Bangunan arsitektur asli Bali tidak terlepas dari bentuk-bentuk ritual keagamaan yang dilaksanakan, selain kental dengan bentuk bangunan yang bercorak Bali dan lebih menekankan kepada keagamaan Hindu bangunan Bali juga tidak dapat dipisahkan dari sentuhan ritual. Bagi masyarakat Bali ritual yajna merupakan taksu bangunan</p> 2025-12-16T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/4926 ANALISIS SUARA GENTA SANG PANDITA (PERSPEKTIF TEOLOGI BUNYI) 2025-05-18T14:17:40+08:00 i wayan rudiana rudiana wayanrudiana11@gmail.com i Ketut Donder donderjyoti@gmail.com I Gede Suwantana suwantana@uhnsugriwa.ac.id <p>Menjadi seorang pendeta dalam agama Hindu memiliki keistimewaan tersendiri, terutama dalam melaksanakan kewajiban menjalankan upacara yadnya. Sebagai pemimpin utama dalam ritual keagamaan, seorang <em>Pandita</em> wajib melengkapi diri dengan perangkat pemujaan yang berfungsi sebagai alat sekaligus simbol sakral. Salah satu perangkat penting tersebut adalah <em>genta</em>, yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi serta mampu menghubungkan pelaksana upacara dengan Tuhan melalui komunikasi nonverbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam fenomena budaya dan tradisi penggunaan <em>genta</em> dalam konteks pemujaan Hindu, tanpa mengabaikan integritas keyakinan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Terdapat beberapa jenis suara <em>genta</em> yang digunakan oleh <em>Pandita</em> saat memimpin upacara yadnya, yaitu <em>walatuk ngulkul</em> (tabuh siki), <em>lembu mangan dukut</em> (tabuh kalih), <em>brahmara ngisep sari</em> (tabuh telu), dan <em>bima kroda</em>; (2) Fungsi dari jenis-jenis suara <em>genta</em> meliputi: sebagai perlengkapan wajib <em>Pandita</em>, pengantar yadnya, penanda atau isyarat ritual, media konsentrasi dan harmonisasi suara sukma, perlambang suara Tuhan, serta sebagai getaran kosmis; (3) Makna suara <em>genta</em> dalam perspektif teologi Hindu mencakup representasi Tuhan dalam konsep henoteisme, politeisme, serta sifat Tuhan yang transenden dan imanen. Selain itu, <em>genta</em> juga memiliki makna dalam dimensi teoestetika, ideologis, serta sebagai simbol harmonisasi antara mikrokosmos dan makrokosmos. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan terkait teologi bunyi dalam tradisi Hindu dan memperkuat pemahaman terhadap peran <em>genta</em> sebagai media spiritual yang sakral dalam praktik keagamaan.</p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/4830 EKSISTENSI DAKSINA LINGGIH DALAM UPACARA DI PURA DESA BANJAR SANGKARAGUNG KELURAHAN SANGKARAGUNG KECAMATAN JEMBRANA KABUPATEN JEMBRANA 2025-04-17T05:59:15+08:00 Komang Mahaitri komangmahaitri03784@gmail.com Relin D.E. ayurelin@gmail.com I Made Girinata girinata@gmail.com <p>Daksina Linggih merupakan sesajen atau banten yang dibuat untuk tujuan kesaksian spiritual. Daksina linggih disebut sebagai lambang Hyang Guru (Dewa Siwa), sehingga digunakan sebagai saksi dewata. Daksina Linggih secara umum memiliki pengertian suatu penghormatan tulus ihlas dalam bentuk upacara dan daksina linggih juga dianggap sebagai salah satu persembahan yang sangat penting serta perlu dipersiapkan agar yadnya (upacara) menjadi lebih berkualitas (satvika yadnya).</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi daksina linggih pada piodalan di Pura Desa Banjar Sangkaragung, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana yang dituangkan melalui dua formulasi masalah yakni : (1) bagaimana eksistensi daksina linggih di Pura Desa Banjar Sangkaragung, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana? (2) bagaimana bentuk dan sarana daksina linggih yang dipergunakan dalam upacara di Pura Desa Banjar Sangkaragung, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana? (3) bagaimana fungsi daksina linggih yang dipergunakan dalam upacara di Pura Desa Banjar Sangkaragung, Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan data dan hasil wawancara, observasi, studi pustaka, dan studi dokumentasi, menerapkan teori religi, teori struktural fungsional dan teori interaksionisme simbolik. Ditemukan bahwa bentuk dan sarana daksina linggih adalah 1) sesuai dengan konsep Tri Angga (Utama Angga, Madya Angga, Nista Angga).</p> <p>Penelitian ini juga menemukan bahwa sarana yang terdapat di dalam daksina linggih terdiri dari 15 unsur pokok. Implikasi yang ditimbulkan dari penggunaan daksina linggih terdiri dari implikasi sosial religius meliputi meningkatnya kegiatan simakrama antar krama dan meningkatnya srada dan bakti krama Desa Sangkaragung, Kelurahan Sangkaragung kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Penelitian fungsi daksina linggih yang terdapat di Pura Desa Banjar Sangkaragung Kelurahan Sangkaragung menemukan bahwa daksina linggih berfungsi sebagai stana dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.</p> <p>Penelitian tentang eksistensi <em>daksina linggih </em>yang dilaksanakan dalam upacara di Pura Desa Kelurahan Sangkaragung mempunyai keunikan dimana bentuk sarana <em>daksina linggih</em> posisinya ditaruh di depan dihiasi bunga-bunga dan berbeda dengan <em>daksina linggih</em> yang ada di wilayah Bali pada umumnya. Bentuk <em>daksina linggih</em> yang ada di Kelurahan Sangkaragung menyerupai bentuk pajegan dan menyerupai bentuk anggota tubuh manusia dan fungsi <em>daksina linggih</em> sebagai simbol Tuhan Yang Maha Esa, sebagai stana Ida Bhatara dan sebagai penganyar atau pengganti daksina linggih sebelumnya.</p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/4934 LONTAR TUTUR ANGKUS PRANA (Kajian Teologi Hindu) 2025-05-21T04:24:07+08:00 I Made Merta mertamade72@gmail.com Ni Kadek Surpi nikadeksurpi@uhnsugriwa.ac.id I Nyoman Piartha inyomanpiartha81@gmail.com I Nyoman Piartha inyomanpiartha81@gmail.com <p><em>Lontar Tutur Angkus Prana </em>memiliki nilai dengan mengunakan simbol sebagai prinsip kehidupan Hindu, seperti <em>karmaphala </em>dan <em>moksa </em>(pembebasan dari siklus kehidupan), sumber ajaran spiritual juga sebagai media penyembuhan atau <em>usada</em>, yang menjelaskan konsep kesehatan fisik dan mental saling berhubungan dalam perspektif Hindu. Ini menunjukkan <em>lontar Tutur Angkus Prana</em> memiliki relevansi yang tidak hanya bersifat religius tetapi juga praktis, karena memberikan panduan untuk menghadapi tantangan kehidupan secara menyeluruh. Hasil penelitian 1. Ajaran <em>tattwa</em> dapat dipahami dalam konteks teologi Hindu meliputi<em> ; Henotheisme</em> Sang<em> Hyang Siwa Tiga </em>sebagai dewa tertinggi dari sekian banyaknya nama dewa.<em> Animisme </em>setiap benda memiliki roh<em>. Polytheisme</em> esensi Tuhan dalam bentuk <em>immanent</em> (<em>Saguna Brahman</em>). <em>Monotheisme Bhatara siwa </em>disebutkan dalam banyak nama<em>. </em>Namun sesungguhnya<em> tunggal jatinia. Teologi siwaistik tercermin </em>dalam kutipan<em> Saisining jagat kabeh lwih ing putus, meraga Siwa. Teologi Bali disebutkan dalam dimensisaguna dan nirguna yaitu bape ibu dan shang Hyang titah. </em>2. Praktik ajaran etika meliputi: Ajaran kawisesan dituangkan dalam beberapa tutur diantaranya angkusprana mengenai yoga,tapa dan brata, prana jati menguraikan wujud pikiran, jati ening moral dan etika, <em>samuscaya </em>menjabarkan manifestasi Tuhan dalam organ tubuh, <em>bhagawan kasyapa </em>mengenai pabersihan<em>, jagatnatha </em>dan<em> jagatguru </em>mengetahui tentang hari kematia<em>n,<strong> t</strong>utur Kanda Phat Catur Sudiksa tentang aksara </em>dan saudara lahir. Praktik ajaran <em>kamoksan </em>dirangkum dalam<em> tutur upadesa, kadharman samuscaya </em>dan <em>adnyana siwa nirmala dan panglepasan Siwer Mas. </em>Praktik ajaran <em>aguron-</em>guron. 3. Aspek susila meliputi: aspek pengendalian diri, tri kaya parisudhatifa perilaku yaitu pikiran perkataan dan pebuatan, budaya bebagai macam adat-istiadan, upacara yadnya meliputi persembahkan.</p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/4705 SISTEM MAPEPEGAT DALAM UPACARA PERKAWINAN DI DESA BESAKIH RENDANG KARANGASEM 2025-02-17T13:05:21+08:00 I Made Cakra Negara balilord07@gmail.com I Putu Sudarma sudarmaputu444@gmail.com I Made Arsa Wiguna arsawiguna@gmail.com <p>Tiga aspek penting dalam upacara perkawinan: Aspek agama, aspek sosial dan aspek hukum. Ketiga Aspek tersebut penting karena berkaitan dengan hubungan keharmonisan antara <em>Parhyangan</em>, <em>Palemahan</em> dan <em>Pawongan</em> dalam agama Hindu disebut dengan <em>Tri Hita Karana</em>. Di Desa Besakih sahnya suatu perkawinan selain tiga aspek tersebut diatas dan <em>tri upasaksi</em> sahnya pernikahan harus melalui upacara sistem <em>mapepegat</em> yang dilakukan di <em>mandala</em> pertama Pura Penataran Agung Besakih. Sistem <em>mapepegat</em> sebagai titik menjadi anggota masyarakat adat. Penelitian ini memberikan pemahaman yang mendalam, tentang tradisi budaya, tradisi, sistem upacara tanpa melanggar integritas masyarakat setempat. Masalah (1) Mengapa melaksanakan upacara <em>mapepegat</em>, (2) Bagaimana proses sistem religi (3) Apa makna sistem <em>mapepegat</em> dalam upacara perkawinan di Desa Besakih. Tujuan memberikan gambaran serta analisa terhadap sistem mapepegat dalam upacara perkawinan. Hasil penelitian (1) Alasan-alasan sistem <em>mapepegat</em>: Historis dan mitologi, Pelestarian tradisi, Wujud syukur secara <em>niskala</em> Hak menjadi <em>kram</em>a desa adat (2) Prosesi <em>mapepegat</em>: Sarana upacara memenuhi unsur <em>satyam siwam sundaram</em> Tempat dan Waktu upacara di <em>mandala</em> pertama Pura Penataran Agung Besakih, Prosesi upacara meliputi tiga tahap Pihak pihak yang terlibat. <em>tri upasaksi</em> (3) Makna <em>mapepegat</em>: Filosofis bahasa weda <em>yadnya</em>, ajaran <em>catur asrama</em>. Sosial religius, Teologis. Estetika Keharmonisan makrokosmos dan mikrokosmos.</p> <p><strong> </strong></p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/4956 INTEGRITAS TOKOH HINDU DI DESA ADAT KAPAL KABUPATEN BADUNG 2025-05-24T06:11:38+08:00 Oggi Yulianti apotekpanji.sakti@gmail.com I Wayan Sugita apotekpanji.sakti@gmail.com I Made Adi Brahman apotekpanji.sakti@gmail.com <p>Tokoh Hindu di Bali sering dianggap sebagai tauladan, sumber inspirasi dalam berbagai kegiatan keagamaan, penasihat dalam pengambilan keputusan, serta menuntun umat ke arah yang lebih baik (guru). Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap seorang tokoh agama sangat tinggi. Selain itu, seseorang yang dalam masa pencarian guru rentan mengalami manipulasi bahkan ketersesatan akibat oknum tokoh agama tertentu (guru-guru palsu) yang belum berkompeten namun sudah menuntun umat. Fenomena ini menunjukkan amat pentingnya tokoh Hindu memiliki integritas moral maupun spiritual yang tinggi.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk integritas tokoh Hindu di Desa Adat Kapal, menganalisis peran tokoh Hindu serta implikasinya bagi kemajuan Desa Adat Kapal Kabupaten Badung yang dituangkan melalui tiga formulasi masalah, yaitu:&nbsp; (1) Bagaimanakah bentuk integritas tokoh Hindu di Desa Adat Kapal Kabupaten Badung? (2)Bagaimanakah peran tokoh Hindu di Desa Adat Kapal kabupaten Badung? (3) Bagaimanakah implikasi integritas tokoh Hindu di Desa Adat Kapal terhadap kemajuan Desa Adat Kapal Kabupaten Badung. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan data dan hasil wawancara, observasi, studi dokumentasi, studi pustaka dengan menerapkan teori religi, teori peran sosial, dan teori nilai.</p> <p>Penelitian ini menemukan bahwa Sikap dan perilaku tokoh Hindu di desa adat Kapal dalam hal kejujuran dan keterbukaan juga sangat baik. Tokoh Hindu di desa adat Kapal juga selalu mempraktikkan nilai-nilai agama Hindu dalam kehidupan sehari-harinya, menjadi tauladan bagi masyarakat Desa Adat Kapal, serta&nbsp; selalu siap sedia meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan pada masyarakat, membimbing dalam pemahaman mengenai upakara maupun menuntun umat mendekatkan diri ke Tuhan dengan jalan meditasi.</p> <p>Penelitian ini juga menemukan bahwa Tokoh Hindu di Desa Adat Kapal memiliki peran psikologis, religious dan spiritual, serta peran sosial budaya.Penelitian ini juga menemukan bahwa Integritas tokoh Hindu selaras dengan beberapa nilai utama dalam teori Schwartz, terutama pada aspek <em>Tradition, Conformity, Benevolence, Universalism, Self-Direction, Security,</em> dan <em>Stimulation</em>.</p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/4915 Pe PEMUJAAN IDA BHATARA SAKTI BUJANGGA DI PURA PUSEH PENATARAN BALE AGUNG DESA ADAT MANIKAJI TEMBUKU BANGLI 2025-05-14T07:52:55+08:00 I Dewa Nyoman Mertawan dwmertawan@gmail.com I Nyoman Yoga Segara yogasegara@uhnsugriwa.ac.id I Gede Suwantana suwantana@uhnsugriwa.ac.id <p>Pemujaan Ida Bhatara Sakti Bujangga, diwujudkan dalam <em>pratima</em> berbentuk <em>naga bersayap.</em> Pemujaan ini dipimpin oleh <em>Pandita Bali Kuno</em>, yang dikenal dengan sebutan <em>Jro Putus, </em>berdasarkan sistem keagamaan tradisi <em>Bali Mula.</em> Penelitian ini bertujuan mengkaji tiga permasalahan pokok, yaitu: (1) bentuk pelaksanaan pemujaan ke hadapan Ida Bhatara Sakti Bujangga, (2) fungsi sosial dan keagamaan dari pemujaan tersebut bagi masyarakat, serta (3) makna teologis yang terkandung dalam pemujaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik <em>purposive sampling</em>, yang meliputi <em>Pemangku, Pengelingsir, Kelian Banjar, </em>dan<em> Sarati Banten.</em> Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Lokasi penelitian di Pura Puseh Penataran Bale Agung, Desa Adat Manikaji, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pemujaan melibatkan penggunaan sarana upacara seperti <em>pratima</em>, <em>sesajen,</em> air suci dan perangkat <em>ritual</em>. Puja mantra menjadi bagian penting dalam struktur ritual. Fungsi dari pemujaan ini yakni memperkokoh struktur sosial keagamaan berbasis <em>Pandita Bali Kuno</em>, memperkuat identitas budaya <em>Bali Mula</em>, meneguhkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan, menumbuhkan <em>sraddha</em> dan <em>bhakti</em>, serta mempererat solidaritas sosial melalui praktik <em>ngayah</em>. Makna teologis pemujaan ini mencakup penguatan keyakinan religius, penghayatan konsep <em>Saguna Brahman</em> dan <em>Nirguna Brahman</em>, apresiasi terhadap nilai seni sakral dalam arsitektur pelinggih, serta pelestarian nilai-nilai sosial dan pengabdian kepada komunitas adat.</p> <p>Kata </p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu https://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/PJAH/article/view/3988 NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM KIDUNG SUDAMALA KAJIAN TEKSTUAL DAN ARKEOLOGIS 2024-08-05T06:30:09+08:00 Heri Purwanto heri.arkeo@gmail.com Coleta Palupi Titasari heri.arkeo@gmail.com <p>Kidung Sudamala merupakan salah satu karya sastra klasik yang memuat pengetahuan dan nilai-nilai spiritual masa lalu. Karya ini penting dikaji karena mencerminkan pandangan keagamaan masyarakat Hindu pada zamannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan ungkapan serta uraian sistem keagamaan yang terkandung dalam Kidung Sudamala. Kajian ini menggunakan metode analisis tekstual terhadap sumber primer, dengan dukungan data sekunder berupa sumber-sumber arkeologis yang membantu proses interpretasi makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Kidung Sudamala terdapat berbagai komponen keagamaan yang dapat diidentifikasi, yaitu emosi keagamaan, sistem keyakinan, perlengkapan upacara, dan umat beragama. Di antara unsur-unsur tersebut, upacara ruwatan menjadi tema sentral yang menggambarkan proses penyucian dan pembebasan Dewi Durga dari kutukan. Kidung Sudamala tidak hanya merepresentasikan sistem keagamaan yang hidup dalam masyarakat Hindu, tetapi juga mengandung ajaran moral dan spiritual tentang penyucian diri serta pembebasan dari kekotoran lahir dan batin. Temuan ini berkontribusi dalam memahami dimensi religius dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya sastra Hindu klasik di Nusantara.</p> <p> </p> 2025-09-30T00:00:00+08:00 Hak Cipta (c) 2025 Pangkaja: Jurnal Agama Hindu