Antara Komputasi dan Kesadaran: Kecerdasan Buatan dalam Perspektif Sāṁkhya Darśana
Kata Kunci:
Artificial Intelligence, Sāṁkhya Darśana, Puruṣa, Prakṛti,, Etika TeknologiAbstrak
Kemajuan pesat Kecerdasan Buatan (AI) dalam meniru kognisi manusia tidak hanya menciptakan disrupsi teknologis, melainkan memicu tiga problem filosofis fundamental: persoalan kesadaran murni (phenomenal consciousness), ontologi mesin terkait batas antara materi dan subjek, serta krisis subjektivitas yang berdampak pada kekeliruan atribusi status moral terhadap teknologi. Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis batas antara logika komputasi AI dan kesadaran sejati melalui kerangka filsafat Sāṁkhya Darśana. Menggunakan pendekatan hermeneutika tekstual dan kontekstual berbasis studi pustaka, data penelitian bersumber dari teks klasik Sāṁkhya Kārikā karya Īśvara Kṛṣṇa serta literatur ilmiah terkait AI dan filsafat Sāṁkhya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, seluruh komponen AI mulai dari perangkat keras hingga algoritma pemrosesan kognitif sepenuhnya berada dalam domain Prakṛti (materi tidak sadar). AI hanya mereplikasi fungsi pemilahan data tanpa memiliki kesadaran sejati karena tidak memantulkan Puruṣa (kesadaran murni). Dampaknya terhadap subjektivitas, AI tidak memiliki status subjek moral maupun hak asasi; pertanggungjawaban etis atas dampak teknologi mutlak berada pada manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat pelayan kemanusiaan, sementara martabat dan kesadaran sejati tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari makhluk hidup.







