ETIKA DAN KEWAJIBAN GURU DALAM LONTAR SIWA SASANA: DIMENSI SUSILA DAN TANTRA-SAKRAMENTAL

Penulis

  • Mery Ambarnuari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • Anak Agung Ayu Alit Widyawati Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Kata Kunci:

Siwa Sasana, susila Hindu, tantra Saiwa, diksa, sangaskara

Abstrak

Lontar Siwa Sasana (dikenal juga dengan sebutan Siwa Sesana dalam sejumlah kajian sekunder) adalah naskah sasana berbahasa Jawa Kuno-Bali yang mengatur tata krama, kewajiban, dan legitimasi ritual para sadhaka (pendeta) dalam tradisi Saiwa, yang menjadi fokus utama artikel ini. Kajian-kajian sebelumnya secara umum membaca Siwa Sasana sebagai risalah etika keguruan semata. Artikel ini mengambil jalur berbeda: lontar ini pada dasarnya mengatur keabsahan otoritas sakramental guru-acarya dalam sistem diksa, yaitu inisiasi tantrik. Jika pembacaan hanya bertumpu pada kerangka Susila Hindu modern (Tri Kaya Parisudha, Panca Yama Brata, Panca Niyama Brata, Asta Brata, Catur Paramita), dimensi tantra dan sakramental teks ini akan mudah terlewat. Dengan metode analisis teks hermeneutik dan pendekatan tekstual-komparatif terhadap edisi terjemahan resmi Siwa Sasana (Titib, 2003)artikel ini menunjukkan bahwa kualifikasi guru, larangan dan kewajiban guru, serta sistem seleksi dan kelayakan sisya berjenjang berdasarkan kondisi fisik, status sosial-genealogis, dan prosedur dalam Siwa Sasana memang berkorespondensi dengan sebagian kerangka Susila Hindu, tetapi korespondensi itu tidak menyeluruh dan tidak netral secara historis. Sebagian konsep, yaitu trikaya paramārtha dan istilah yang berpadanan dengan Catur Paramita, memang tertulis eksplisit dalam lontar, sementara kerangka Panca Yama/Niyama Brata sebagaimana dikenal dalam pendidikan Hindu Bali modern tidak muncul dengan nomenklatur itu dalam naskah primer, sehingga penerapannya sebagai pisau analisis perlu dinyatakan sebagai kerangka interpretatif, bukan kategori asli teks. Artikel ini juga mengoreksi kekeliruan penghitungan kualifikasi guru pada kajian-kajian sebelumnya dan menegaskan pentingnya membaca diksa sebagai sangaskara (penyucian tantrik) yang menyertakan aparatus ritual (bhasma, siwapakarana), bukan semata syarat administratif usia.

Unduhan

Diterbitkan

2026-09-30

Terbitan

Bagian

##section.default.title##