TAPTA KṚCCHRA VRATAM SEBAGAI RITUAL PURIFIKASI ATAS KONTAMINASI ULAH PATI DALAM PERSPEKTIF PARĀŚARA DHARMAŚĀSTRA
Kata Kunci:
Tapta Kṛcchra Vratam, Prāyaścitta, Ulah Pati, Parāśara DharmaśāstraAbstrak
Penelitian ini mengkaji tapta kṛcchra vratam, suatu ritual pembersihan diri untuk menebus kontaminasi negatif (dosa) akibat kontak fisik dengan jenazah bunuh diri (ulah pati) berdasarkan perspektif Parāśara Dharmaśāstra. Permasalahan yang diangkat mencakup makna filosofis dan landasan teksusial ritual, tata cara pelaksanaan, serta perbedaan dengan praktik suddha karma/prāyaścitta masyarakat Hindu Bali. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan analisis hermeneutik teks klasik dan studi literatur mengenai hukum, etika, dan ritual Hindu. Data diperoleh dari teks Parāśara Dharmaśāstra, dokumen etnografi, dan literatur sekunder yang relevan, kemudian diinterpretasi guna memahami dimensi normatif, filosofis, dan ritualistik ritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa tapta kṛcchra vratam terdiri dari empat tahap pantangan makanan berurutan selama dua belas hari yakni hanya mengonsumsi air hangat, susu hangat, mentega murni, dan hanya udara serta pemberian sapi atau kerbau kepada brāhmaṇa. Setiap tahap merepresentasikan proses transformasi spiritual melalui elemen kosmis dan askese ekstrem. Makna filosofis ritual ini berakar pada konsep kemuliaan manusia, karma, dan upaya regenerasi spiritual setelah pelanggaran berat. Disparitas dengan prāyaścitta Bali terletak pada paradigma ritual soliter tekstual-normatif versus praktik komunal-material yang menekankan banten, Tri Hita Karana, dan fleksibilitas kontekstual. Simpulan penelitian menegaskan bahwa meski berbeda bentuk dan kerangka teologis, kedua tradisi memiliki tujuan sama, yaitu memulihkan kesucian, menegakkan dharma, dan mengharmoniskan hubungan individu dengan kosmos. Tapta kṛcchra vratam tetap relevan sebagai warisan Weda yang memadukan askese, simbolisme kosmis, dan etika ritual kontemporer.






