ARSITEKTUR PALINGGIH ULAM AGUNG DAN PEDAU: ARTEFAK SIMBOLIK KEPERCAYAAN MASYARAKAT PESISIR NUSA PENIDA, DALAM OSMOSIS HINDUISME
DOI:
https://doi.org/10.25078/vidyottama.v7i1.2350Kata Kunci:
palinggih 'bangunan suci HIndu', masyarakat pesisir, osmosis, Nusa PenidaAbstrak
Arsitektur palinggih ‘tempat suci Bali’ umumnya dibangun berdasarkan rancangan bangunan suci Hindu menurut pedoman arsitektur tradisional Bali, namun berbeda dengan dua bentuk arsitektur bangunan tempat suci di Nusa Penida, Bali. Studi ini berfokus pada transformasi sistem kepercayaan masyarakat pesisir lokal Nusa Penida yang diwujudkan menjadi bangunan suci ulam agung (raja ikan) dan pedau (perahu layar tradisional). Hasil studi menunjukkan bahwa transformasi arsitektur metafora palinggih terjadi karena penguasaan, penempatan, dan konversi modal budaya, sosial, simbolik, dan ekonomi, yang melintasi habitus individu dan kolektif di ranah sistem kepercayaan lokal masyarakat pesisir Nusa Penida. Sistem kepercayaan masyarakat terhadap dewa-dewa lokal mengalami proses osmosis menjadi dewa-dewa dalam jajaran agama Hindu. Praktik sosial-keagamaan juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, penalaran, dan pengalaman mereka terhadap bentuk arsitektur palinggih sebagai bangunan simbolik agama Hindu.
Referensi
Aska. (2023). Metaphor Architecture: Definition, Principles, Figure and Their Works. Available on https://www.arsitur. com/2018/09/architecture-metaphor-comp lete.html (accessed on January 10, 2023).
Barker, C. (2005) Cultural Studies: Theory and Practice. London: Sage Publications, p. 93.
Buda, Jro Mangku Made (2007) Nusa Penida Chronicle. Surabaya: Paramita
Bourdieu, P. (2016) the Arena of Cultural Production: A Study of the Sociology of Culture, Yogyakarta: Discourse Creation, p. xv-xx.
Foucault, Michel (2002) Power/Knowledge, Discourse on Power/Knowledge (Trans. Yudi Santosa). Yogyakarta: Landscape Culture.
Geria, I Made (1997) “Nusa Penida Survey”, Classical Archeology Publishing News, No.2, p.7.
Geriya, I Wayan (2008) Transformation of Balinese Culture Entering the XXI Century. Surabaya: Paramita.
Harker, R, Cheelen, M. and Wilkes, C. (2009) (Habitus X Capital) + Realm = Practice. The Most Comprehensive Introduction to the Thoughts of Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra
Haryatmoko (2016) Dismantling the Regime of Certainty. Yogyakarta: PT. Kanisius, p. 45.
Holt, Claire. (2000). Tracing the Traces of the Development of Art in Indonesia (Trans. RM Soedarsono). Bandung: Arti.line.
Maswinara, I W. (2004). Veda Sruti Rg Veda Samhita Sakala Sakha Mandala IV, V, VI, VII. Surabaya: Paramita.
Mircea, Eliade (2002) the Myth of the Eternal Return or Cosmos and History. New Jersey: Princeton University Press, p. 4.
PHDI (Hindu Dharma Council of Indonesia) (2010) the Results of the Great Congregation Hindu Dharma Council of Indonesia. Jakarta: PHDI Pusat.
Piliang, YA & Jaelani, J. (2018). Contemporary Cultural Theory: Exploring Signs and Meanings. Yogyakarta: Aurora.
Suhardana, KM (2015) Guidelines for Pinandita. Surabaya: Paramita, p. 289.
Titib, M. (2008). “Synergy of Religions and Culture in Balinese Society”. Ed. IBG Yudha Triguna. Balinese Culture and Cultural Capital in Local, National, Global Binoculars. Denpasar: Master’s Program in Religion and Culture at the Indonesian Hindu University Denpasar.
Vedananda, I.P.M.A.J.D. (2020). Devata Puja Samhita. Depictions of the Gods and Sets of Puja Mantras. Surabaya: Paramita cooperates with the Bali Province MGPSSR.




