Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW <div id="group"> <h4>Guna Widya : Jurnal Pendidikan Hindu dengan ISSN online <a href="http://u.lipi.go.id/1542098486">2655-0156</a> (SK no. 0005.26550156/JI.3.1/SK.ISSN/2018.12 - 5 Desember 2018 (mulai edisi Vol. 6, No. 1, Maret 2019), diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Dharma Acarya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar mulai tahun 2014, didedikasikan sebagai publikasi ide, gagasan, hasil penelitian terkait pendidikan agama Hindu. Guna Widya : Jurnal Pendidikan Hindu terbit 2 kali dalam setahun, terindeks oleh Sinta, <strong>CrossRef</strong>, <a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=WD_5g8QAAAAJ&amp;hl=id&amp;authuser=1" target="_blank" rel="noopener"><strong>Google Scholar</strong></a>, dan <strong><a href="http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/view/16152">Garuda</a>.</strong></h4> </div> id-ID gunawidyauhn@gmail.com (Ida Ayu Gde Wulandari) municzhu.made@gmail.com (I Made Sukma Muniksu) Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN METODE BELAJAR DARING TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SDN 1 GADUNGAN KECAMATAN SELEMADEG TIMUR KABUPATEN TABANAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1021 <p>Model <em>Problem Based Learning</em> merupakan salah satu model pembelajaran yang memberikan siswa permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang dapat membantu pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sehingga dapat memupuk keterampilan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan. Di era pandemi seperti saat ini model pembelajaran <em>Problem Based Learning</em> sangat cocok disandingkan dengan metode belajar secara <em>daring</em> (online). Hal ini dibuktikan dari penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan di SDN 1 Gadungan Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan yang menyasar siswa kelas V di mata pelajaran Agama Hindu. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh perbandingan yang sangat signifikan sebelum diterapkannya model PBL, siklus I dan Siklus II. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama Hindu kelas V sebelum menerapkan metode PBL adalah 66,67. Sedangkan setelah dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan metode PBL rata-rata hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah 85, rata-rata pada aspek afektif&nbsp; 87,5 dan aspek psikomotor adalah 83,5. Perbandingan antara sebelum dan sesudah dilakukan tindakan kelas pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 12,5% pada nilai kognitif, untuk peningkatan hasil belajar afektif sebesar 20% dan peningkatan 17% pada aspek psikomotor. Untuk hasil belajar pada siklus II jika dibandingkan dengan sebelum tindakan juga jauh lebih menunjukkan adanya peningkatan yang maksimal, sebesar 17,5 % peningkatan terjadi pada aspek kognitif, peningkatan nilai di aspek afektif sebesar 25%, dan untuk hasil belajar pada aspek psikomotor terjadi peningkatan sebesar 20%.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci :<em>Hasil belajar, Problem Based Learning, Daring, Pandemi</em></strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Ni Putu Suparwati, Ni Nyoman Suastini Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1021 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 KARAKTERISTIK GURU AGAMA HINDU DALAM PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL KE DALAM STANDAR ISI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI DI KOTA DENPASAR http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/875 <p>Guru Agama Hindu (GAH) di SMA Negeri di Kota Denpasar belum memiliki karakteristik multikultural yang memadai, sehingga belum mampu mengintegrasikan pendidikan multikultural ke dalam standar isi pendidikan Agama Hindu secara optimal. Sehingga penelitian ini bertujuan menganalisa tipe, peran, dan upaya rekonstruksi karakteristik GAH dalam pengintegrasian pendidikan multikultural ke dalam standar isi pendidikan Agama Hindu. Data dikumpulkan melalui teknik observasi non-partisipan, wawancara tidak berstruktur, dan studi dokumen, kemudian dianalisa dengan teknik etnografi model spradley. Pengumpulan dan analisa data mengacu pada teori tindakan sosial Max Weber, pilihan rasional James S. Colemen, dan pendidikan multikultural James S. Banks.</p> <p>Ada tiga temuan penelitian. <em>Pertama,</em> tindakan rasional instrumental adalah tipe karakteristik GAH. Terbentuknya peserta didik yang menyadari dan menghargai keragaman sosial, dengan memanfaatkan keragaman sosial, budaya dan praktek keberagamaan dalam masyarakat Hindu secara internal sebagai strategi (alat) mencapai tujuan, merupakan pertimbangan rasional instrumental GAH. <em>Kedua,</em> karakteristik GAH berperan menentukan keputusan terhadap pilihan menerima atau menolak pengintegrasian pendidikan multikultural ke dalam standar isi pendidikan Agama Hindu di SMA Negeri di Kota Denpasar. Disebut pilihan rasional karena didasarkan pada tujuan, alasan, preferensi, serta upaya optimalisasi keuntungan dan minimalisasi kerugian. GAH adalah aktor sosial yang berupaya mengoptimalkan sumber daya untuk kepentingan sosialnya. <em>Ketiga, </em>karakteristik GAH sangat potensial direkonstruksi melalui upaya pemberdayaan peningkatan pemahaman dan keterampilan terhadap (a) pengintegrasian konten pendidikan multikultural melalui pengembangan dokumen kurikulum (silabus dan RPP) dan materi pembelajaran Pendidikan Agama Hindu, (b) konstruksi pengetahuan, (c) pengurangan prasangka, (d) penciptaan <em>equity pedagogy,</em> dan (e) pemberdayaan kultur sekolah.</p> <p>Simpulannya, GAH di SMA Negeri di Kota Denpasar berkarakteristik tindakan rasional instrumental, yang berperan menentukan keputusan memilih atau menolak pengintegrasian pendidikan multikultural ke dalam standar isi pendidikan Agama Hindu, dan dapat direkonstruksi melalui upaya pemberdayaan peningkatan pemahaman dan keterampilan terhadap lima dimensi pendidikan multikultural.</p> Ferdinandus Nanduq, Nyoman Dantes, I Made Wigunayasa Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/875 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 KETURUNAN ANGLURAH SIDEMEN DALAM BABAD ARYA WANG BANG SIDEMEN (Kajian Historis) http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1441 <p>Perjalanan hidup Anglurah Sidemen tidaklah begitu mulus. Ini terbukti dengan adanya berbagai peristiwa, bahkan hingga menyebabkan wafatnya Anglurah Sidemen II (I Gusti Kacang atau I Gusti Anglurah Dimade) oleh utusan raja Gelgel (I Bunglun) &nbsp;hanya karena persoalan ayam aduan. Putra beliau I Gusti Kaler yang pada waktu itu masih kecil, hampir diserang oleh pasukan Gelgel atas perintah raja Gelgel. Syukurlah beliau dimintakan maaf kepada raja Gelgel oleh paman-paman beliau yang ketika itu masih di Gelgel, sehingga raja membatalkan penyerangan itu.</p> <p>Anglurah Sidemen III, IV, V, dan VI juga merupakan Anglurah yang sangat berjasa kepada raja Gelgel. Anglurah Sidemen ke VI berhasil menyelamatkan putra-putra raja Gelgel dari pembunuhan ketika istana Gelgel diserang oleh I Gusti Agung Maruti. Atas usaha Anglurah Sidemen pula raja Gelgel mampu mengembalikan tahta kerajaan Gelgel dari kekuasaan I Gusti Agung Maruti. Anglurah Sidemen VI memprakarsai pemindahan istana Swecapura Gelgel ke Klungkung pada tahun 1710. Pada Anglurah Sidemen VII berahirlah keturunan Arya Bang Sidemen menduduki jabatan Anglurah karena beliau diperdaya dan dibunuh oleh pasukan Karangasem di bawah pimpinan I Gusti Sibetan.</p> <p>Peristiwanya bermula dengan adanya dendam raja Karangasem dan juga I Gusti Sibetan. Melihat kerajaan Klungkung yang besar dan makmur maka raja Karangasem berkeinginan meluaskan wilayahnya untuk menguasai Sidemen. Untuk itu raja Karangasem mempengaruhi I Gusti Sibetan agar mau membunuh I Gusti Anglurah Sidemen walau masih terhitung kerabat dekatnya. Mengingat Sidemen memiliki pasukan Dulang Mangap yang sangat kuat maka dibuatkanlah tipu daya. Anglurah Sidemen diberitahu bahwa wilayah kekusaannya di bagian timur terjadi keributan. Untuk itu beliau disarankan agar meninjau daerah wilayahnya dan menentramkannya. Beliau disarankan untuk tidak membawa pasukan karena I Gusti Sibetan berjanji akan membantunya. I Gusti Anglurah Sidemen akhirnya mengikuti saran I Gusti Sibetan. Beliau mendatangi daerah wilayah timur kekuasaannya untuk mengetahui keberadaan masyarakatnya di sana. Namun, ketika beliau baru tiba di wilayah Sibetan maka beliau diserang oleh pasukan Karangasem. Karena beliau hanya bertujuh maka beliau gugur di sana.</p> <p>Semenjak terbunuhnya beliau maka daerah Sidemen dikuasai oleh raja Karangasem. Jabatan Anglurah Sidemen tidak digunakan lagi karena Sidemen sudah tidak lagi merupakan bagian kerajaan Asmarapura.&nbsp; Jadi masa Anglurah Sidemen VII merupakan masa surut atau berhentinya keturunan Ida Penataran sebagai Anglurah. Setelah itu, menyebarlah keturunan Arya Wang Bang Sidemen. Ada yang masih tinggal di desa Sidemen, ada yang ke Selat, Besakih, Ulakan, Klungkung, Petang, Alas Angker Buleleng, Badung, Jembrana, Bangli, Lombok bahkan ada yang ke Sumatra, Sulawesi dan sebagainya.</p> <p>&nbsp;</p> I Gd. Dedy Diana Putra, I Nengah Karsana Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1441 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP KRAMA DESA DALAM TRADISI MUHU-MUHU DI DESA ADAT TENGANAN PEGRINGSINGAN http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1515 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The Muhu-Muhu tradition is one of the cleaning ceremonies and returns, all elements in Bhuana agung and Bhuana alit back to their place, which is carried out by Krama desa in the Tenganan Pegringsingan Traditional Village, which in this tradition gives deep meaning as the internalization of values ​​that shape the character of Hindu society. religious ones. The first internalization process is transformation. The transformation process is defined as a process carried out by educators to inform good and bad values. At the transformation stage in the internalization process, educators do it through verbal communication. This value transformation process is only the transfer of knowledge from educators to students. The value transaction stage is the second process, in the stage of the process of internalizing character values ​​to students, namely Krama Desa in including ethical values ​​in maintaining a tradition it has. The actualization of character values ​​in internalization leads to ethics and morals. Every Krama Desa who is equipped in the stage of transinternalization of values ​​about the Muhu-Muhu tradition finds a truly deep understanding of the meaning of a character value, living side by side peacefully, both with fellow creatures of this nature, on a scale and niskala. The results of the process of internalizing character values ​​to Village Krama in the Muhu-Muhu tradition include religious values, social values, tolerance values, discipline values, friendly/communicative values, creative values, responsibility values ​​and aesthetic values.</em></p> <p><strong><em>Keywords: Muhu-Muhu Tradition, Education, Character Values, Village Courtesy</em></strong></p> Putu Ersa Rahayu Dewi, I Nengah Juliawan Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1515 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 PEMIKIRAN FILOSOFIS PAULO FREIRE TERHADAP PERSOALAN PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN SISTEM MERDEKA BELAJAR DI INDONESIA http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/164 <p>Pendidikan adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Namun, menjadi paradoks apabila dalam pendidikan terdapat dehumanisasi. Guru bukanlah orang yang menindas dan siswa bukanlah orang yang tertindas. Demikianlah, gagasan yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan. Pemikiran dari Paulo Freire memiliki relevansinya dengan sistem pendidikan merdeka belajar di Indonesia yang digagas oleh Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yakni dengan tujuan untuk memberikan kekebasan dalam dunia pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, dengan analisis data menggunakan pola Miles dan Huberman. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah 1). Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan memiliki relevansinya dengan sistem pendidikan merdeka belajar di Indonesia yang sama-sama menekankan pada aspek humanisme dalam pendidikan. 2). Pemikiran Paulo Freire menekankan metode pendidikan hadap masalah, bukan lagi dengan sistem pendidikan gaya bank yakni guru hanya memberi dan siswa hanya menerima. 3). Kebijakan merdeka belajar menjadi hal yang penting untuk mengkonstruksi ulang sistem pendidikan nasional dan penting untuk mengingat kembali keberagaman potensi yang dimiliki oleh peserta didik yang tidak bisa untuk diseragamkan. Guru tidak lagi disibukkan dengan tugas administratif, namun guru lebih penting untuk memiliki banyak waktu bersama siswanya dalam melakukan dialog selama proses belajar mengajar.</p> Gede Agus Siswadi Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/164 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 PENTINGNYA PENDIDIKAN ETIKA SEKSUALITAS MENURUT HINDU BAGI GENERASI MUDA HINDU http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1426 <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>In the midst of free development in today's era of globalization, there have been many widespread sexual deviations committed by young people. Lack of sex ethics education which has caused many problems and violation of norms. It has also led to a free and unhealthy sex life and disease. This sexual deviation often occurs among young people such as pregnancy out of wedlock, abortion, rape, cohabitation and others. Factors for the occurrence of these sexual deviations can be seen in the internal factors contained within themselves and external factors contained in their environment. Sex and the issues related to it should be studied well before one enters marriage. Many young people are familiar with sex, but their introduction to sex is not deep into the science of sex. The desire to know sex is a tendency of basic human traits, so it's time for this to be satisfied by providing proper sex and health education. Lack of education about sex among young people causes and exposes themselves to be obscene, cheap, free, and creates a permissive attitude of free sex that makes them lie and destroy. This unfortunate situation will eventually lead to conflict between young people and their families, especially parents.</p> </div> </div> </div> I Nyoman Hari Mukti Dananjaya, Ni Ketut Puspita Sari Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1426 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 PROSES FILTERISASI ERA KALI YUGA BERLANDASKAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1445 <p>Menyikapi kondisi zaman dewasa ini, dimana banyak manusia seakan bersikap mengabaikan kebenaran, kemudian manusia sudah mulai menghalalkan segala cara untuk dapat mencapai tujuannya, inilah yang dinamakan zaman <em>Kali Yuga </em>dimana krisis etika dan moral sudah merajalela dimana-mana. Kebenaran telah dikalahkan dengan keangkuhan, kesombongan, dan keserakahan. Manusia telah meninggalkan budaya malu, hingga semua perbuatannya telah dianggap selalu benar. Apabila ditinjau lebih mendalam lagi, sebenarnya <em>Dharma </em>(kebaikan) tidak pernah berubah sejak zaman dahulu, sekarang, bahkan pada masa yang akan datang. <em>Dharma </em>akan ada sepanjang zaman, akan tetapi mempunyai karakteristik yang selalu menyesuaikan pada setiap zaman.</p> <p>Melakukan latihan kerohanian (spiritual) untuk zaman <em>Satya Yuga </em>yang baik adalah dengan jalan melakukan latihan meditasi. Kemudian, pada zaman <em>Treta Yuga </em>latihan yang baik dilakukan adalah dengan melaksanakan <em>Yadnya </em>atau persembahan tulus ikhlas. Untuk zaman <em>Dwapara Yuga</em>, latihan yang tepat dilakukan adalah dengan jalan <em>Yoga </em>atau melaksanakan upacara pemujaan, dan pada zaman <em>Kali Yuga</em>, mengisi diri dengan pengetahuan dan berlandaskan pendidikan yang sempurna akan menjadikan manusia memiliki sumber daya yang kuat guna menghadapi tantangan dan kemajuan zaman.</p> Kadek Dwi Sentana, I Putu Suyasa Ariputra, Komang Trisna Dewi Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1445 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS DALAM UPANISAD http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1529 <p>Upanisad sebagai salah satu kitab suci dalam agama Hindu banyak mengandung nilai-nilai pendidikan karakter religius yang tentunya sangat relevan untuk dipelajari, dipahami, dan dipraktekkan dalam menjalankan hidup sebagai makhluk sosial dewasa ini, dalam upaya meningkatkan wawasan serta karakter yang postif bagi masyarakat Hindu pada khususnya agar terwujud sumber daya manusia yang unggul dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Beberapa ajaran dalam upanisad antara lain; ajaran tentang Ketuhanan, Atman, Karma Phala, Reinkarnasi (Punarbhawa), dan Moksa (Bersatunya atman dengan Brahman). Selain sebagai kitab suci yang mengandung ajaran spiritual, secara filosofis Upanisad juga merupakan sistematika pendidikan yang berorientasi pada disiplin sadhana spiritual yang bertujuan mewujudkan sisya/ siswa yang berkarakter religius. Dalam menanamkan karakter religius, semua guru dalam Upanisad secara gamblang mengajarkan pengetahuan rohani berkenaan dengan Tuhan, hakikat sang diri, alam dan sejenisnya. Pembelajaran yang demikian, bukan berarti menggambarkan ajaran yang bersifat rahasia dan terbatas, tetapi sengaja pengetahuan tersebut selalu dimunculkan sebab tujuan dari pembelajaran yang sebenarnya adalah sisya/siswa dapat memahami hakikat diri dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam.</p> Ni Made Widha Erpani, I Putu Agus Aryatnaya Giri, I Made Girinata Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1529 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 REFLEKSI AJARAN AHIMSA MAHATMA GANDI http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/974 <p>Mahatma Gandhi responded to the phenomenon of Indian society with the ahimsa movement. <br />With his teachings, he offers a comprehensive solution to human awareness to know himself <br />better, because according to him, ahimsa includes tolerance, patience, humility and love of <br />truth. These characteristics are said to bring people to know themselves better and how they <br />should act. This study aims to explore the concept of ahimsa offered by Mahatma Gandhi and <br />the implications of ahimsa for the struggle for India's independence. Related as a secondary <br />data source. While the method used is a descriptive analytical approach that seeks to explain <br />Gandhi's thoughts clearly, accurately and systematically. The results of this study obtained <br />several answers that first, Mahatma Gandhi's concept of ahimsa requires everyone not to harm <br />any creature, either with words, thoughts, words and actions even for the benefit of humans.</p> Wahyu Iryana, Budi Sujati, Galun Eka Gemini Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/974 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800 PERSEPSI PESERTA DIDIK TENTANG PEMBELAJARAN DARING MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI DI SMP (SLUB) SARASWATI 1 DENPASAR http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1647 <h1>Abstrak</h1> <p>Pandemi covid-19 membawa pengaruh bagi semua aspek kehidupan termasuk pada dunia pendidikan khususnya pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui persepsi peserta didik tentang pembelajaran daring mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP (SLUB) Saraswati 1 Denpasar.</p> <p>Jenis penelitian ini adalah penelitian survey menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang beragama Hindu berjumlah 227 peserta didik. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik <em>simple random sampling </em>berjumlah 69 peserta didik. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner dengan 22 butir pernyataan. Semua butir pernyataan dinyatakan valid dan reliabel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu dengan mementukan skor terrendah, skor tertinggi, rata-rata ideal (Mi) dan Standar Deviasi ideal (SDi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi peserta didik terhadap pembelajaran daring pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti sebanyak 22 responden (31,88%) mempunyai persepsi yang sangat baik, 25 responden (36,23%) mempunyai persepsi yang baik, 21 responden (30,43%) mempunyai persepsi yang cukup, 1 responden (1,45%) mempunyai persepsi tidak baik, dan tidak ada responden mempunyai persepsi yang sangat tidak baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka persepsi peserta didik terhadap pembelajaran daring pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti sebagian besar adalah baik.</p> <h1>Kata Kunci: Pembelajaran Daring, Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti</h1> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> Ayu Kadek Tri Bhuana, I Made Wiguna Yasa, Ni Nyoman Mariani Hak Cipta (c) 2022 Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/GW/article/view/1647 Thu, 01 Sep 2022 00:00:00 +0800